Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

Puncak Tertinggi

sore hari telah berlalu, manusia separuh baya itu melaju menghindari lalu lalang kepulan asap di riuhnya sepanjang jalan raya, telah kembali dari perhelatan perjuangan di waktu siang. sama seperti orang-orang pada umumnya, pergi pagi dan pulang petang, mengais materiil untuk hidup di kemudian hari. sesampainya di rumah berdindingkan anyaman bambu berlubang disudut sana sini, manusia itu merebahkan seluruh badannya di sudut ruangan tempat tidurnya, tak menunggu hingga lama, tubuhnya sudah tak terjaga, jiwanya hengkang menuju dunia lain dalam benak tidurnya. di benak tidurnya berceritera, sebuah kisah jerih perjuangannya, mencoba menaiki satu dari deretan barisan perbukitan di semesta, satu puncak tertinggi dari puncak lain. bergontai mendekap bongkah bebatuan keras dan menyingkarkan debu-debu hendak masuk ke kelopak matanya. setengah jalan dari harapnya telah teraih, namun tak ada yang tau, manusia itu tersungkur menuruni dasar perbukitan, bersamaan dengan loncatan bebatuan di samping k...

Seperti Semula

tak terasa, telah beranjak ratusan hari dimana pintu-pintu beranda depan rumah tak berbuka dihantui oleh rong-rongan binatang yang tak kenal malam dan siang. menutup rapat sela-sela beranda hingga tak ada jua yang hendak bersua bersama. menepi dalam ruang mencari kesendirian tanpa mereka apa yang disana. menanti hingga musim paceklik kunjung henti, menanti aroma daun dahan kering di pinggiran setapak jalan raya. dan yang dinanti kini akhirnya disini, setiap pintu beranda berbuka lebar tak ada sekat menyapa. tak teraroma lagi sengatan bau busuk di depan teras, telah terhablur bersama kering debu tanah, menjadinya satu dan tak ada yang tersisa, lenyap sudah semua bau pekat di depan beranda. setapak jalan telah terbingar barisan suar cahaya di remang malam, menghentak nada mendengung sorak suara kemenangan, bersuka ria bersama. pagi telah kembali, gema bisikan di genggaman tangan kembali terkumandang di setiap meja depan beranda, bersamaan dengan peluh mata membasahi dinding-dinding yang ...

Wanita di Sudut Kota

Rintik air masih menetes dari tiap tiap genting dan ranting di sudut persimpangan jalan, menggelayut berjatuhan menunggu gilirannya tiba. berlomba girang hendak menyatu dengan kawanannya di muka bumi, berdebur bersama angin malam, bersentuh dengan roda-roda dan alas kaki ibukota. Berlari-lari bersamaan menuju dunia bawah, untuk menyemai dan menggembur bersama tanah, dan menggerogoti akar-akar tua yang berupaya untuk menopang kayu dan memupuk dahan untuk berbunga. tak ada yang tau, hingga sekarang, pohon berkayu tua di sudut persimpangan jalan tak jua bersemi dengan kelopak kelopak bunga seperti musim yang telah sirna. Tak jua menampakkan keelokannya. Entah esok fajar ialah waktunya, atau hanya wacana belaka. Mungkin musim di malam ini beda, bukan musim milik sang pohon tua yang menanti mengotori trotoar jalan, bukan waktunya untuk mencolok anggun seperti pohon muda. Entah, tak ada juga yang peduli dengannya. Lampu bangunan di sepanjang jalan trotoar mulai bercahaya, dengan kebanyakan w...