Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2019

Damar dan Amara (Bagian Dua)

Bagian 2 : Krisis Moneter Aku diam terheran heran melihat wanita itu, berpakaian dinas,berkerudung segitiga coklat muda, seperti biasa, tapi pagi ini dia tidak bersama sepeda mininya. "Bang, bisa ke Mupat?" celetuk wanita itu setelah sampai di dekatku. "Iya bisa, langsung naik aja" jawabku datar, Mupat sebutan dari SMA Muhammadiyah 4, berada di Jalan Mondorakan, searah tujuanku menuju ke Pasar Kotagedhe. Aku langsung mengayuh becak tuaku. "Nganter pelanggan atau siapa bang ?" tanya wanita itu memulai pembicaraan, "Anak saya", jawabku masih datar, hanya jawaban formalitas saja, sembari aku menyalakan rokok kretek, tidak masalah menyesap rokok di becak, toh asap tidak mungkin terkena ke pelanggan. "Berarti tiap pagi itu sama anaknya ya, kirain saya pelanggan" jawab wanita itu sembari menutup hidung dan mulutnya dengan helaian kerudung. Aku tidak peduli dengannya yang menggunakan bahasa isyarat itu, toh juga asap rokok tida...

Damar dan Amara (Bagian Satu)

Bagian 1 : Wanita Sepeda Mini Pagi ini sepi, pohon-pohon masih pasrah bergelayutan di dinginnya pagi, burung-burung jantan juga masih menetap di dalam sangkarnya, bersama sang betina dan anak anaknya. Bumbungan asap rokok perlahan menghilang berbaur dengan udara, semakin ke atas asap menjadi hilang, sesapan dan sebulan puntung rokok menjadi teman setia bagi Gadhing di kala pagi hari, sembari sesekali menyeruput kopi buatan nya sendiri, menikmati pagi di halaman rumahnya, duduk termangu melihat suasana pagi itu.  Sudah menjadi kebiasaan bagi Gadhing tiap pagi duduk di halaman ditemani secangkir kopi pahit buatannya sendiri dan sepuntung rokok kretek. Kebiasaan ini dilakukannya setelah selesai memasak sarapan dan sedang menunggu Damar, anak laki-laki satu-satunya yang berusia 11 tahun selesai mandi. "Dhing, Gadhing, pagi pagi udah ngalamun wae, cari istri sana biar ada yang mijetin di pagi hari, hahaha !" "Asu kau, pagi - pagi udah ngajak ribut !" refleks G...

Mata Angin Tanpa Arah

Bisikan suara mesin berfosil tak mengganggu lagi, yang ada hanya diam, senyap, dan lantunan makhluk jalang, yang berkeliaran di hari petang. Malam baru saja selebas dimulai, masih ada beberapa waktu untuk dinikmati, entah apa yang dinikmati, kesendirian, kehampaan, atau kesunyian malam. Petang yang remang, tapi masih ada manusia yang gamang, tentang rasa, tentang jiwa, hingga tentang dunia. Jutaan manusia di luar sana, dan disini ada aku, berkeliaran di petangnya malam, menikmati sunyinya malam, gamang di remangnya malam. masih bertanya, untuk apa ada ? masih mereka, bagaimana mendatang ? masih menerka, apa makna bernyawa? mereka berbicara, hidup untuk ada bagi mereka, tapi apa, aku disini menyendiri penuh ego. mereka mengucap, hidup hanya singgah minum sahaja, tapi apa, aku ingin lama mengecap nikmat dunia. mereka berdalih, hidup cuma sekali, nikmati sahaja, tapi apa, hanya ada ceratan luka dijiwa. ...

Selayang Suara Pinggiran

Selayang Suara Pinggiran Di negeri sendiri kekuasaan komoditi paling dicari Dari pelosok desa hingga sudut kota setia terpelihara syahwat berkuasa Bagi rata harta demi diberi takhta sudah tak rahasia  Rela masuk bui tak peduli sanak famili jadi taruhan  Modus nikmat takhta dunia lebih megah dibanding takhta alam sana  Untuk apa menggebu jika yang ada hanyalah malu  Untuk apa berkuasa jika yang ada hanya sengsara Untuk apa menajiskan kebaikan demi tercipta kebusukan Untuk apa?  Jika nanti hanya mati dan jadi onggokan belulang?  Meraih hati rakyat menjadi misi terlaknat Visi misi mana ada yang peduli Isu, konspirasi, dan harta jadi senjata utama Caci dan maki makin menjadi jadi Tipu dan daya makin merjalela Dosa dunia ibarat ladang pahala Cukup sejenak Kami lelah dengan drama dan muslihat Kami jenuh dengan intrik dan konflik  Kami lelah jadi hewan gembala Kami rindu tanpa ada seteru Kami teman tanp...