Dekade Mendatang Ting Tong. Tepat suara pertama lonceng tempat peribadatan di ujung jalan membangunkan ragaku, menjadinya terjaga seperti sedia kala. Satu persatu bunyi lonceng kuhitung, demi memastikan jam berapa sekarang. Ya, lonceng berhenti tepat di jumlahnya ke 12, sembari kumengamati selongsong jendela tua diseberang kamar, terlihat remang dan gelap, tanpa cahaya. Tepat pukul 12 malam, pertanda pergantian dekade telah pada puncaknya. Entah, jiwa nan raga ini tak merasa berbeda. Enggan tiba pertanda berkobar rasa semangat di beberapa detik pertama dekade baru ini. Enggan jua rasa iba dan sengsara, atas apa yang telah berlalu dari dekade lampau. Pageblug panjang di segala penjuru desa nyatanya telah mengebaskan naluri dan hati hingga cacat merasa. Entah, apa yang terjadi pada mereka di luar sana, yang pasti ada dua mereka. Mereka yang pertama, dengan gamang membasuh segala coretan pena hitam di buku lusuhnya, berupaya menggantinya dengan coret tulisan ceritera ...
Seberapa cepat perubaan dunia terjadi ? Apakah kita sadar ? atau hanya berpura tak sadar ?