tak terasa, telah beranjak ratusan hari dimana pintu-pintu beranda depan rumah tak berbuka dihantui oleh rong-rongan binatang yang tak kenal malam dan siang. menutup rapat sela-sela beranda hingga tak ada jua yang hendak bersua bersama. menepi dalam ruang mencari kesendirian tanpa mereka apa yang disana. menanti hingga musim paceklik kunjung henti, menanti aroma daun dahan kering di pinggiran setapak jalan raya.
dan yang dinanti kini akhirnya disini, setiap pintu beranda berbuka lebar tak ada sekat menyapa. tak teraroma lagi sengatan bau busuk di depan teras, telah terhablur bersama kering debu tanah, menjadinya satu dan tak ada yang tersisa, lenyap sudah semua bau pekat di depan beranda. setapak jalan telah terbingar barisan suar cahaya di remang malam, menghentak nada mendengung sorak suara kemenangan, bersuka ria bersama.
pagi telah kembali, gema bisikan di genggaman tangan kembali terkumandang di setiap meja depan beranda, bersamaan dengan peluh mata membasahi dinding-dinding yang telah dihias sedemikian rupa. remah-remah kudapan kembali menjadi bulan-bulanan semut merah bawah lantai, bunyi dentingan cawan kaca kembali bergelimang di belakang beranda. gemerisik sendok dan garpu telah kembali, dengan aroma rempah pekat disana sini, bumbungan asap belakang juga mengepul dari lubang-lubang kayu bakar.
berbeda dengan ruangan dalam beranda dengan tenang bersua, jalanan depan beranda malah melenggang dengan gilasan roda membekas di debu yang menebal, bumbungan asap juga mengisi trotoar jalanan, bersaut-sautan, merusak langit pagi yang biasanya cerah menjadi remang. tak hanya pagi, siang, sore, dan malam juga sama saja, berbelut asap-asap roda berputar.
namun tak apa katanya, semuanya telah kembali seperti semula. tak jua perlu resah menapak selangkah keluar teras beranda. tak perlu resah dihantui oleh musim seperti kemarin lusa.
Komentar
Posting Komentar