Langsung ke konten utama

Damar dan Amara (Bagian Dua)

Bagian 2 : Krisis Moneter

Aku diam terheran heran melihat wanita itu, berpakaian dinas,berkerudung segitiga coklat muda, seperti biasa, tapi pagi ini dia tidak bersama sepeda mininya.
"Bang, bisa ke Mupat?" celetuk wanita itu setelah sampai di dekatku.
"Iya bisa, langsung naik aja" jawabku datar, Mupat sebutan dari SMA Muhammadiyah 4, berada di Jalan Mondorakan, searah tujuanku menuju ke Pasar Kotagedhe. Aku langsung mengayuh becak tuaku.
"Nganter pelanggan atau siapa bang ?" tanya wanita itu memulai pembicaraan,
"Anak saya", jawabku masih datar, hanya jawaban formalitas saja, sembari aku menyalakan rokok kretek, tidak masalah menyesap rokok di becak, toh asap tidak mungkin terkena ke pelanggan.
"Berarti tiap pagi itu sama anaknya ya, kirain saya pelanggan" jawab wanita itu sembari menutup hidung dan mulutnya dengan helaian kerudung.
Aku tidak peduli dengannya yang menggunakan bahasa isyarat itu, toh juga asap rokok tidak turun ke dekat penumpang, aku membiarkannya, tapi wanita itu tetap asyik bertanya seperti sudah kenal saja.
"Udah lama bang jadi tukang becak?", dengan suara yang lebih berat karena tertutup kerudung tadi.
"Udah dari tahun 90an" dan jawabku masih datar, tidak mau terlalu terbawa suasana.
"Berarti ada masa-masa susah ya bang, waktu tahun 98 kan krisi moneter, pasti tahun-tahun pelanggan sepi, susah cari penghasilan kan bang?" wanita berkerudung cokelat muda ini lagi dan lagi mulai asyik berbicara, tapi tema kali ini aku sedikit tertarik, memang tahun itu menjadi tahun terbajingan buatku, susah cari uang, istri minta pegat, ngutang kesana kemari.
"Iya memang, kok bisa tahu?" jawabku menunjukkan sedikit ketertarikan dengan tema pembicaraan ini.
"Iya bang, dulu saya ikut demonstrasi menuntut Soeharto turun di Gedung DPR MPR, masih ingat, 19 Mei 1998, ribuan mahasiswa memborbardir gedung itu,ramai sekali, alasan krisis moneter yang kian terpuruk membuat mahasiswa dulu termasuk saya harus ambil bagian,  awal tahun 1998 rupiah masih 2000an per dollar nya, hingga pada tiba tiba melonjak naik menjadi 14.000, ekonomi kian terpuruk, masyarakat kecil kesusahan begitu juga mereka para pelaku bisnis, dibuat kocar kacir. Lalu akhirnya 21 Mei Soeharto turun, lahirlah Reformasi, lalu sektor ekonomi mulai dibenahi oleh pemerintahan selanjutnya" jawab wanita ini dengan hikmat bercerita.
"Iya memang, dulu tahun-tahun itu masa sulit buat kita tukang becak", jawabku pendek, lalu wanita itu terdiam dan membuka kerudung dan batuk, tidak tahu batuk yang dibuat-buat atau memang batuk asli, aku tidak peduli. Rokok ku sudah habis, tepat sampai di depan Mupat,wanita itu seraya turun.
"Berapa bang?" celetuk wanita itu,
"limaribu" jawabku masih pendek,
"ini bang duapuluhribu, tapi 1 bungkus rokok itu buat saya!" jawab wanita itu, aku heran dengannya, tanpa pikir panjang aku langsung meninggalkannya, tanpa mengambil uang bayaran, aku tidak suka dengan wanita yang terlalu mencampuri urusan hidupnya, dia tidak tahu apa apa tentangku tapi sok mecampuri urusanku. Aku mulai mengayuh becakku, wanita itu tiba-tiba menceletuk.
"Nggak kasihan anaknya bang?", aku tetap tidak peduli,aku langsung meninggalkannya di belakang, dan masih akan kuingat, kalau wanita ini masih hutang ongkos becak limaribu padaku.

Malam ini pukul 19.30 di malam Minggu, aku bergegas mengayuh becak ke Pasar Kotagedhe,Damar sudah tidur duluan, malam Minggu seperti biasa Pasar Kotagedhe pasti ramai dikunjungi pengunjung dan wisatawan, aku berharap semoga malam ini ramai pelanggan, dan aku bisa menambah uang saku untuk besok pagi, ya, Damar mengajak pergi ke Kebun Binatang Gembiraloka, memang sudah lama anakku menginginkannya, tapi belum aku iyakan dari dulu, baru bisa besok, jadi aku sangat bersemangat nggenjot becak untuk malam ini, demi Damar. Aku menuju di persimpangan depan Pasar, di malam itu memang ramai, tapi malam baru dimulai, tidak banyak wisatawan yang ingin meninggalkan pasar jam segini. Aku langsung memarkir becakku di dekat persimpangan, tanpa pikir panjang aku langsung menuju ke perpustakaan jalanan yang memang ada di persimpangan Pasar Kotagedhe setiap malam Minggu. Sesampai disana aku melihat-lihat buku yang memang ditata sedemikian rapi, kebanyakan bukunya usang, tapi tidak apa-apa, mataku langsung tertuju pada buku seperti majalah dengan judul "Awal Reformasi" aku ambil buku itu dan duduk bersila di depan jajakan buku dan menyesap rokok kretekku, malam yang nikmat, duduk bersila di bawah malam, membaca buku, dan menyesap rokok.
Saat khidmat melihat gambar di buku ini, tiba-tiba ada wanita yang datang dan duduk bersila disampingku, wanita berkerudung cokelat muda itu seraya mengambil 1 puntung rokok di samping ku yang tadi kuletakkan, dia menyalakannya, dan menyesap puntung rokoknya. Aku tahu dia siapa.
"Kamu merokok ?" tanyaku spontan ke wanita yang masih berhutang limaribu padaku itu.
Dia tidak menjawab,malah asyik melihat buku-buku yang ada didepannya. Aku tahu dari mukanya, dia tidak pernah merokok seumur hidupnya, raut muka menahan jejalan rokoknya, memerah, aku tak tahu apa alasan dia ikut menyesap rokok itu, apa dia hanya mengujiku ? apa ini sarkas dia ? aku tidak peduli, aku tetap melanjutkan sesapan rokok kretekku.
Berjalan 10 menit, wanita itu tetap acuh padaku, tidak memperdulikanku, masih menyesap rokoknya, aku mulai iba padanya, aku langsung mematikkan rokokku di lantai, ternyata dia ikut mematikan rokok yang di sesapnya. Aku diam penuh tanya, hatiku sedikit terketuk malam ini oleh wanita berkerudung cokelat, apa tujuan dia ?.
"Abang nggak baca beneran kan ? cuman liat gambar-gambar kan? Bisa antar saya pulang ke rumah tidak bang, deket SD N Giwangan. Dia spontan bertanya sehabis mematikan rokoknya, aku masih tidak percaya kejadian tadi.
"Iya bisa", jawabku pendek penuh tanda tanya
Kami langsung menuju ke becak tuaku, ternyata barang bawaan wanita ini banyak sekali, tidak tau untuk apa, aku langsung mengayuh becakku dan mengantar wanita ini menuju rumahnya, berbeda dengan tadi pagi, malam ini wanita berkerudung cokelat muda hanya diam, tidak banyak bicara seperti tadi pagi, aku tidak tahu mengapadan aku tidak ingin tahu.
15 menit berlalu di tengah keheningan antara kami berdua, akhirnya kami sampai, aku langsung membantunya menurunkan barang bawaan.
"Bang, besok pagi bisa antar ke Rumah Sakit Wirosaban tidak ? Mau jenguk teman saya rawat inap disana, sekalian bawa barang ini". wanita ini bertanya,
"Maaf mbak, Saya besok mau pergi ke Gembiraloka sama anak saya" jawab ku datar.
"Oh yasudah bang, berapa ya jadinya?". wanita itu tidak melanjutkan pembicaraan mengenai besok pagi.
"delapanribu mbak", jawab ku tetap pendek.
Wanita itu langsung mengeluarkan uangnya dan memberikan padaku.
"Ini bang 13ribu, sama hutang tadi pagi 5ribu, terimakasih ya bang" jawab wanita itu datar, tidak berekspresi seperti tadi pagi, aku menerimanya, wanita itu langsung masuk ke rumahnya,aku belum sempat menjawab terimakasih kembali. Aku langsung kembali ke Pasar Kotagedhe dengan banyak pikiran.
Siapa wanita ini,
Dia waras ?
Kenapa dia tadi ikut merokok dan berhenti ketika aku juga berhenti ?
Masih banyak pertanyaan sepele yang memenuhi kepalaku,
tapi seperti biasa, bila berhubungan dengan wanita aku harus melupakannya,
aku masih mengutuk diriku sendiri.

(bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Tiada Tara Hingga Duga

Sudah 365 hari sudah cerita drama klasik telah terkompilasi dengan baik, gema riung kerontah memori masih terpaut dalam ingatan tanpa berdebu sedikitpun, alur demi alur jalan cerita masih tersimpan baik di ingatan jangka pendek ini, mulai dari titik temu awal hingga setiap jalan setapak masih menghantui dan tak ingin singgah pergi dari diri. Menjadi kompilasi salah satu kenangan terbaik dari 2 dekadi manusia ini di dunia. Setiap drama, pertengkaran, pertikaian, kisah bahagia, suka, duka, tawa masa remaja dewasa terpaut satu sama lain, tak hendak beralih tak ingin usai sedikitpun. Pekan Ilmiah Mahasiswa 32, ajang bergengsi bagi mahasiswa seluruh negeri, dari penjuru kota hingga pelosok negeri, salang bersikut sisi demi mempertahankan asa dan kuasa nya sendiri. 1614 mahasiswa berjuang mengendalikan asa hingga berada di panggung yang mungkin menjadi panggung kehormatan. Dan disini ada kami, 5 manusia dengan latar belakang berbeda, melebur bersama 1614 manusia lainnya, berjuang mempertahan...

Seperti Semula

tak terasa, telah beranjak ratusan hari dimana pintu-pintu beranda depan rumah tak berbuka dihantui oleh rong-rongan binatang yang tak kenal malam dan siang. menutup rapat sela-sela beranda hingga tak ada jua yang hendak bersua bersama. menepi dalam ruang mencari kesendirian tanpa mereka apa yang disana. menanti hingga musim paceklik kunjung henti, menanti aroma daun dahan kering di pinggiran setapak jalan raya. dan yang dinanti kini akhirnya disini, setiap pintu beranda berbuka lebar tak ada sekat menyapa. tak teraroma lagi sengatan bau busuk di depan teras, telah terhablur bersama kering debu tanah, menjadinya satu dan tak ada yang tersisa, lenyap sudah semua bau pekat di depan beranda. setapak jalan telah terbingar barisan suar cahaya di remang malam, menghentak nada mendengung sorak suara kemenangan, bersuka ria bersama. pagi telah kembali, gema bisikan di genggaman tangan kembali terkumandang di setiap meja depan beranda, bersamaan dengan peluh mata membasahi dinding-dinding yang ...

Damar dan Amara (Bagian Satu)

Bagian 1 : Wanita Sepeda Mini Pagi ini sepi, pohon-pohon masih pasrah bergelayutan di dinginnya pagi, burung-burung jantan juga masih menetap di dalam sangkarnya, bersama sang betina dan anak anaknya. Bumbungan asap rokok perlahan menghilang berbaur dengan udara, semakin ke atas asap menjadi hilang, sesapan dan sebulan puntung rokok menjadi teman setia bagi Gadhing di kala pagi hari, sembari sesekali menyeruput kopi buatan nya sendiri, menikmati pagi di halaman rumahnya, duduk termangu melihat suasana pagi itu.  Sudah menjadi kebiasaan bagi Gadhing tiap pagi duduk di halaman ditemani secangkir kopi pahit buatannya sendiri dan sepuntung rokok kretek. Kebiasaan ini dilakukannya setelah selesai memasak sarapan dan sedang menunggu Damar, anak laki-laki satu-satunya yang berusia 11 tahun selesai mandi. "Dhing, Gadhing, pagi pagi udah ngalamun wae, cari istri sana biar ada yang mijetin di pagi hari, hahaha !" "Asu kau, pagi - pagi udah ngajak ribut !" refleks G...