Langsung ke konten utama

Damar dan Amara (Bagian Satu)

Bagian 1 : Wanita Sepeda Mini

Pagi ini sepi, pohon-pohon masih pasrah bergelayutan di dinginnya pagi, burung-burung jantan juga masih menetap di dalam sangkarnya, bersama sang betina dan anak anaknya.
Bumbungan asap rokok perlahan menghilang berbaur dengan udara, semakin ke atas asap menjadi hilang, sesapan dan sebulan puntung rokok menjadi teman setia bagi Gadhing di kala pagi hari, sembari sesekali menyeruput kopi buatan nya sendiri, menikmati pagi di halaman rumahnya, duduk termangu melihat suasana pagi itu. 
Sudah menjadi kebiasaan bagi Gadhing tiap pagi duduk di halaman ditemani secangkir kopi pahit buatannya sendiri dan sepuntung rokok kretek. Kebiasaan ini dilakukannya setelah selesai memasak sarapan dan sedang menunggu Damar, anak laki-laki satu-satunya yang berusia 11 tahun selesai mandi.
"Dhing, Gadhing, pagi pagi udah ngalamun wae, cari istri sana biar ada yang mijetin di pagi hari, hahaha !"
"Asu kau, pagi - pagi udah ngajak ribut !" refleks Gadhing membalas ejekan Darmo tetangganya dan juga sahabat karibnya yang kebetulan lewat jalan depan dan segera berlari meninggalkan Gadhing setelah mendengar Gadhing murka.
Memang benar, sudah 10 tahun Gadhing hidup sebagai orangtua tunggal bagi Damar, istrinya pergi meninggalkan mereka berdua.
"Mas, aku sudah tidak kuat lagi, aku capek mas hidup melarat, hidup nelangsa kaya gini, lelah aka punya suami kere kayak kamu, mau makan aja susah, belum lagi buat beli susu anak mu ini !"itulah ocehan istri Gadhing dengan nada tinggi di malam 10 tahun lalu.
Gadhing langsung menarik nafas panjang menahan emosi, dengan mata yang berlinang air mata.
"Terserah kamu dik, kalau sudah tidak bisa lagi, tinggalkan kami berdua, silahkan keluar dari rumah ini" nada Gadhing pasrah malam itu, seraya istri Gadhing sedikit tersenyum sinis dan langsung berkemas meninggalkan mereka berdua.Tiga hari kemudian istri Gadhing datang untuk mengurus surat cerai, hari itu menjadi hari dimana hubungan kedua suami istri itu berakhir.

Hari hari itu menjadi hari-hari terbajingan dalam hidup ku, hidup kere, ditinggal istri, dan harus mengurus Damar, hari itu aku terpaksa meminjam uang Darmo untuk membeli susu untuk Damar yang masih berusia 1 tahun, susu yang kubeli pun bukan susu yang sesuai dengan kebutuhan Damar, susu kalengan cair terpaksa kubeli demi membagi uang pinjaman dengan kebutuhan pokok terutama beras. Terpaksa juga di pagi hingga petang Damar aku tinggal di istri Darmo untuk pergi mengayuh becak, ya pengayuh becak adalah pekerjaanku dari tahun ke tahun, hanya ini yang bisa kulakukan,ijazah lulusan SD sudah tidak ada gunanya sekarang, terpaksa membuatku menjadi pengayuh becak di daerah Kotagedhe.
Dua minggu berlalu setelah perceraian, aku mendengar kabar bahwa mantan istriku sudah menikah lagi, dia dinikahi oleh anggota Satuan Polisi yang memang hidupnya bergelimang harta, berbeda jauh dariku, paras cantik istrik memang bisa jadi modal untuk menggaet anggota Polisi, entah sudah berapa bulan mereka berdekatan, sudah bukan menjadi urusan ku.
Hal ini yang membuat lubang besar di hati ku, lara yang dalam, mulai saat itu aku sudah tidak percaya lagi dengan cinta seorang wanita, semua orientasi wanitu bukan cinta dari kekasih, yang ada hanya sisi materialistik mereka, hari itu aku mengutuk diriku, untuk tidak mencinta wanita lagi, untuk tidak percaya mereka lagi, paten.

"Bapak, aku sudah selesai mandi, ayo sarapan !", suara Damar dari balik pintu mengagetkanku, aku langsung mengiyakan ajakannya untuk sarapan.
Di rumah inilah aku dan anakku menghabiskan hari-hari, tembok batu bata yang tak dilapisi semen, lantai belum rata, dan atap yang sudah berlubang di beberapa bagian. Sarapan dengan nasi, sayur buncis, dan tempe, seperti kesukaan Damar anakku.
"Damar, Bapak mau bilang sesuatu"
"Bagaimana Bapak ?", sahut Damar dengan antusias.
"Damar, kau sekolah yang benar ya, yang rajin, jangan jadi kayak Bapak mu, kau harus sekolah tinggi, kerja yang mapan, jadi orang kaya, kau harus lebih dari Bapakmu ini yang hanya tukang becak!".
"Iya Bapak, aku tahu!" sahut Damar.
"Orang miskin rendahan seperti bapak mu ini hanya disepelekan Damar, tidak dianggap apa-apa, maka dari itu kau harus bisa lebih dari Bapak, kau harus sukses, kau harus terus berjuang!".
Damar terdiam, dia langsung mendekatiku dan memelukku erat tanpa berkata apa-apa, aku tertegun.
"Damar, sudah jam setengah 7 ini, kau harus bergegas ke sekolah sebelum terlambat!" potongku memotong momen berpelukan itu.
Damar langsung bergegas menenteng tas nya. "Pak ?" Damar memanggilku dan membuka tangannya minta di gendong di belakang ku. Sudah menjadi kebiasaan dari kecil Damar aku gendong di belakang menuju ke parkiran becak, lalu aku antar ke sekolah dengan becak. Pagi ini tidak seperti biasa, Damar yang biasanya bercanda ria dibelakangku pagi ini hanya terdiam saja. Tiba-tiba anak kecil ini berbisik di telingaku.
"Pak, besok kalau Damar sudah gedhe, bapak yang aku gendong ya!" bisik damar.
Bisikan itu menusuk hati lelaki 32 tahun ini, tanpa sadar mataku mengeluarkan berlinang air mata dan meneteskannya, aku hanya bisa diam sampai di parkiran becak.

Sesampai di parkiran, Damar langsung duduk di bangku depan, perjalanan menuju ke sekolah dimulai dengan aku menggenjot pedal sepeda becak tua ini. Kali ini seperti biasa, Damar asyik menceritakan tentang pelajaran di sekolahnya yang sudah ia pelajari tadi malam, dari perkalian pembagian matematika, hingga cerita sejarah kemerdekaan dulu, hal ini tentu mengingatkanku pada masa-masa SD ku dulu. Sembari mendengarkan cerita Damar, aku merasa ada yang ganjil di jalanan yang kulewati ini, tidak seperti biasanya, serasa ada yang kurang, tapi aku tidak tahu ada apa gerangan yang hilang atau tidak nampak. Aku melupakannya hingga sampai di sekolah anakku.
Damar langsung turun dan bersalaman dan mencium tanganku, tak ada kata kata motivasi dari ku pagi itu, yang ada hanya senyuman lebar dari ku, senyuman itu dibalas anakku dengan senyum yang lebih lebar, membuatku tertawa. Damar masuk ke sekolahan.

Aku membalikkan becakku dan segera kembali dan menuju ke Pasar Kotagedhe, pusat perekonomian di daerah ini, tiba-tiba jauh dibelakangku terdengar wanita berteriak.
"Woy, tukang becak, woy tukang becak !"
Aku menoleh ke belakang, aku ingat.
Wanita itu yang biasa kulihat setiap pagi dijalanan dengan sepeda mininya,
Ketiadaan wanita di pagi tadi ternyata keganjilan tadi,
dia, si wanita dengan sepada mini.

(bersambung)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Tiada Tara Hingga Duga

Sudah 365 hari sudah cerita drama klasik telah terkompilasi dengan baik, gema riung kerontah memori masih terpaut dalam ingatan tanpa berdebu sedikitpun, alur demi alur jalan cerita masih tersimpan baik di ingatan jangka pendek ini, mulai dari titik temu awal hingga setiap jalan setapak masih menghantui dan tak ingin singgah pergi dari diri. Menjadi kompilasi salah satu kenangan terbaik dari 2 dekadi manusia ini di dunia. Setiap drama, pertengkaran, pertikaian, kisah bahagia, suka, duka, tawa masa remaja dewasa terpaut satu sama lain, tak hendak beralih tak ingin usai sedikitpun. Pekan Ilmiah Mahasiswa 32, ajang bergengsi bagi mahasiswa seluruh negeri, dari penjuru kota hingga pelosok negeri, salang bersikut sisi demi mempertahankan asa dan kuasa nya sendiri. 1614 mahasiswa berjuang mengendalikan asa hingga berada di panggung yang mungkin menjadi panggung kehormatan. Dan disini ada kami, 5 manusia dengan latar belakang berbeda, melebur bersama 1614 manusia lainnya, berjuang mempertahan...

Seperti Semula

tak terasa, telah beranjak ratusan hari dimana pintu-pintu beranda depan rumah tak berbuka dihantui oleh rong-rongan binatang yang tak kenal malam dan siang. menutup rapat sela-sela beranda hingga tak ada jua yang hendak bersua bersama. menepi dalam ruang mencari kesendirian tanpa mereka apa yang disana. menanti hingga musim paceklik kunjung henti, menanti aroma daun dahan kering di pinggiran setapak jalan raya. dan yang dinanti kini akhirnya disini, setiap pintu beranda berbuka lebar tak ada sekat menyapa. tak teraroma lagi sengatan bau busuk di depan teras, telah terhablur bersama kering debu tanah, menjadinya satu dan tak ada yang tersisa, lenyap sudah semua bau pekat di depan beranda. setapak jalan telah terbingar barisan suar cahaya di remang malam, menghentak nada mendengung sorak suara kemenangan, bersuka ria bersama. pagi telah kembali, gema bisikan di genggaman tangan kembali terkumandang di setiap meja depan beranda, bersamaan dengan peluh mata membasahi dinding-dinding yang ...