Langsung ke konten utama

Enigma Titel Intelektual

Assalamualaikum Wr. Wb.
Selamat malam, salam sejahtera bagi kita semua,

Yang pertama tentu saja, saya mengucap syukur atas segala hal apa saja yang telah diberikan oleh Allah, karena tanpa pemberian-Nya kita tidak mungkin masih berada di dunia ini dan berinteraksi satu dengan yang lain.
Kemudian saya mengucapkan selamat datang dan bertemu kembali di tulisan aneh kali ini buat para penyintas evolusi sangkala yang mungkin nyasar ke halaman ini.

Di halaman ini, sebenarnya saya iseng ingin bertanya daripada gabut, buat kalian semua, dan tentunya buat saya pribadi. Untuk apa sih kita mengenyam pendidikan ? entah itu di sd, smp, dan sma/k, atau mungkin untuk apa sih kita mengejar gelar sarjana di perkuliahan ?
Mungkin ada yang jawab sebagai langkah untuk mengubah status sosial, mungkin ada yang jawab buat ngisi waktu aja lah daripada nganggur nggak ada kerjaan, atau bahkan mungkin ada yang "karena di suruh orang tua". Itu dulu mungkin yang harus dijawab oleh seluruh jutaan mahasiswa di seluruh Indonesia.

Sebenarnya sah sah saja kalau jawabannya ingin mengubah status sosial, ingin ada kerjaan daripada nganggur, atau ingin menuruti apa yang disuruh oleh orangtua tersayang, tapi apakah motivasi tujuan yang disebutkan oleh kalian semua wahai netizen dibarengi dengan niat untuk merubah nasib saudara saudara yang berada di sekitar kita, hingga ingin mengubah wajah Indonesia ke arah yang lebih baik ?

Mungkin bila tidak dibarengi dengan niat tadi, di masa yang akan datang, kita hanya akan menambah banyak list penindas penindas golongan lain, melakukan eksploitasi kemanusian tanpa memperhatikan peri kemanusian dan peri keadilan, nggak ada keinginan untuk merubah nasib kelas sosial yang berada di bawah.

Karena di masa sekarang ini, banyak sekali praktik praktik eksploitasi kemanusiaan yang dilakukan oleh kaum kaum berintelektual tinggi, banyak sekali pendidikan kaum sosial bawah yang tidak diperhatikan, banyak sekali rakyat yang tertindas dalam diam, sedangakan kita hanya diam saya, tidak peduli, atau mungkin malah berpura tidak sadar.

Jadi mungkin itulah sevuah tanda tanya untuk teman teman semua, dan untuk saya pribadi tentunya. Semoga dengan tulisan ini, teman teman semua, termasuk saya juga, akan punya pandangan lain terhadap hidup ini, aamiin. Apabila ada kritik saran bisa dimasukkan ke kolom komentar / inbox via surat elektronik, terimaksih. Selamat malam,

Wassalamualaikum Wr. Wb

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Tiada Tara Hingga Duga

Sudah 365 hari sudah cerita drama klasik telah terkompilasi dengan baik, gema riung kerontah memori masih terpaut dalam ingatan tanpa berdebu sedikitpun, alur demi alur jalan cerita masih tersimpan baik di ingatan jangka pendek ini, mulai dari titik temu awal hingga setiap jalan setapak masih menghantui dan tak ingin singgah pergi dari diri. Menjadi kompilasi salah satu kenangan terbaik dari 2 dekadi manusia ini di dunia. Setiap drama, pertengkaran, pertikaian, kisah bahagia, suka, duka, tawa masa remaja dewasa terpaut satu sama lain, tak hendak beralih tak ingin usai sedikitpun. Pekan Ilmiah Mahasiswa 32, ajang bergengsi bagi mahasiswa seluruh negeri, dari penjuru kota hingga pelosok negeri, salang bersikut sisi demi mempertahankan asa dan kuasa nya sendiri. 1614 mahasiswa berjuang mengendalikan asa hingga berada di panggung yang mungkin menjadi panggung kehormatan. Dan disini ada kami, 5 manusia dengan latar belakang berbeda, melebur bersama 1614 manusia lainnya, berjuang mempertahan...

Seperti Semula

tak terasa, telah beranjak ratusan hari dimana pintu-pintu beranda depan rumah tak berbuka dihantui oleh rong-rongan binatang yang tak kenal malam dan siang. menutup rapat sela-sela beranda hingga tak ada jua yang hendak bersua bersama. menepi dalam ruang mencari kesendirian tanpa mereka apa yang disana. menanti hingga musim paceklik kunjung henti, menanti aroma daun dahan kering di pinggiran setapak jalan raya. dan yang dinanti kini akhirnya disini, setiap pintu beranda berbuka lebar tak ada sekat menyapa. tak teraroma lagi sengatan bau busuk di depan teras, telah terhablur bersama kering debu tanah, menjadinya satu dan tak ada yang tersisa, lenyap sudah semua bau pekat di depan beranda. setapak jalan telah terbingar barisan suar cahaya di remang malam, menghentak nada mendengung sorak suara kemenangan, bersuka ria bersama. pagi telah kembali, gema bisikan di genggaman tangan kembali terkumandang di setiap meja depan beranda, bersamaan dengan peluh mata membasahi dinding-dinding yang ...

Damar dan Amara (Bagian Satu)

Bagian 1 : Wanita Sepeda Mini Pagi ini sepi, pohon-pohon masih pasrah bergelayutan di dinginnya pagi, burung-burung jantan juga masih menetap di dalam sangkarnya, bersama sang betina dan anak anaknya. Bumbungan asap rokok perlahan menghilang berbaur dengan udara, semakin ke atas asap menjadi hilang, sesapan dan sebulan puntung rokok menjadi teman setia bagi Gadhing di kala pagi hari, sembari sesekali menyeruput kopi buatan nya sendiri, menikmati pagi di halaman rumahnya, duduk termangu melihat suasana pagi itu.  Sudah menjadi kebiasaan bagi Gadhing tiap pagi duduk di halaman ditemani secangkir kopi pahit buatannya sendiri dan sepuntung rokok kretek. Kebiasaan ini dilakukannya setelah selesai memasak sarapan dan sedang menunggu Damar, anak laki-laki satu-satunya yang berusia 11 tahun selesai mandi. "Dhing, Gadhing, pagi pagi udah ngalamun wae, cari istri sana biar ada yang mijetin di pagi hari, hahaha !" "Asu kau, pagi - pagi udah ngajak ribut !" refleks G...