Langsung ke konten utama

Menyingkap Panorama Merbabu via Selo


Assalamualaikum Wr. Wb
Selamat malam, salam sejahtera bagi kita semua,

Yang pertama dan paling utama tentu saja Saya ingin mengucap puji syukur yang sangat besar kepada Allah SWT, sebab berkat rahmat dan hidayahnya kita masih diberi kesehatan hidup dan masih bisa berbagi sebuah cerita antar satu sama lain.

Di tulisan saya kali ini, saya ingin sedikit membagikan atau menceritakan tentang pengalaman yang menurut saya di luar kebiasaan atau di luar dari ritme harian saya yang mungkin bisa dibilang monoton atau flat flat saja. Pengalaman di luar kebiasaan yang akan saya bagikan disini tidak lain dan tidak bukan yaitu perjalanan saya dan sahabat saya ke Puncak Gunung Merbabu 3142 mdpl via Jalur Selo. Oiya, sebelum kalian melanjutkan membaca, saya garis bawahi bahwa tulisan ini bukan panduan / guide buat siapapun yang ingin mendaki Gunung Merbabu, tulisan ini hanya pure sharing pengalaman saja, langsung saja, bahasa nya maaf ya pakai bahasa santai.

Jadi awal mula saya bisa nyasar sampai ke puncak Merbabu ini adalah sahabat saya tadi yang mengajak duluan, dia kan bekerja di tambang batubara di Kalimantan tuh, jadi dia dari beberapa minggu sebelum cuti udah merencanain buat mendaki gunung, dan akhirnya dipilihlah Merbabu sebagi tujuan, setelah mendapat tawaran itu, saya sempat berpikir beberapa waktu, akhirnya saya putuskan untuk mengiyakan dan menuruti apa kata dia. Kenapa saya mau ? karena menurut saya hari hari yang saya jalani kok menurut saya datar datar aja, tiap hari ya cuman pergi hingga tiba di rumah, mencumbu aspal yang sama selama berbulan bulan, mendengarkan orang lain berceramah, mengangkat tangan di ruangan hanya untuk sebuah pencitraan, sampai menikmati drama drama sosial berepisode, atau mungkin saya malah ikut dalam drama tersebut. Saya merasa kok hidup saya hari hari itu cuman kayak berpacu di sebuah sirkuit yang ternyata bentuknya lingkaran, terus menurus, nggak terbatas. Miris akut memang, kaya lirik sebuah lagu gini nih "People run in circle it's a very - very Mad World. Jadi itulah alasan saya pingin ikut mendaki, entah ingin mencari perspektif baru, atau mungkin untuk membuang jemu, atau hanya untuk bersenang riang saja, nggak ada yang salah kan ?. Jadi itulah latar belakang saya mengikuti sebuah perjalanan ke Puncak Merbabu ini, agak naif memang, tapi ya apa salahnya kan mencoba ?.

Awalnya saya kesulitan buat mendapat izin dari orang tua terutama ibu saya (maklum saya anak rumahan jadi masih polos, hehehe), karena lagi musim hujan juga, dan cuman berdua, sama beliau malah nantang gini : Kamu udah pernah Merbabu kan, ngapain Merbabu lagi ? begitu dalam Bahasa Jawa (Saya sebelumnya pernah ndaki Merbabu via Wekas dan Prau), setelah berdebat panjang berdasarkan data dan fakta, akhirnya dizinin nih buat berangkat.
Diputuskanlah berangkat pada hari Kamis tanggal 15 November 2018, dan ternyata pas pada Malam Jumat Kliwon. Kami berangkat pukul 13.00 dari rumah saya di Minggir, Sleman. Kami berangkat lewat Jalan Tempel Dekso yang langsung tembus ke Jalan Magelang, setelah sampai Jalan Magelang kita ke utara ikuti terus jalan, nanti nemu jalan searah, disitu kita pelan pelan karena patokan kita ada kenteng di kanan jalan baru kita belok kanan, setelah itu lurus terus ikuti jalan utama, disini kita disuguhi hiruk pikuk kegiatan masyarakat di sekitar kaki gunung, mulai dari menanam sayur, panen, hingga mobil mobil pick up yang membawa hasil bumi mereka. Disini kita juga disuguhi pemandangan alam yang kece dan eksotis dari Gunung Merapi dan Merbabu, keren.
Plakat Gancik Hilltop, Basecamp Merbabu

Setelah mengikuti jalan utama, nanti di kanan jalan ada plakat bertuliskan "Gancik Hilltop, Base Camp Merbabu" warna hijau, disitu kita naik terus, dan sampai di area basecamp, ada banyak berjejer di pinggir jalan, disitu kita pilih yang paling ujung, alias paling dekat dengan pintu masuk Pendakian Merbabu via Selo, nama basecamp yang kita pilih yaitu "Basecamp P.Supar" (maklum, pendaki mental tempe, biar nggak jalan kejauhan), untuk jalur yang lebih detail bisa via GMaps namanya Basecamp Merbabu Selo.
Pukul 14.40 (temen saya ini ngebut sekali pakai motornya, sampai saya mikir, dia kerja nyopir backhoe tapi kok bisa gini ya naik motornya) kita sampai di basecamp, disana kita langsung mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan mulai dari A - Z.
Basecamp Pak Supar
Basecamp Pak Supar - Pos 1 : Dok Malang
Pukul 15.20 kita mulai naik, pertama mengurus simaksi dan melakukan pembayaran terlebih dahulu (15.000/kepala, meliputi asuransi dan konstribusi pengunjung), dari sana kita mulai melangkahkan kaki kita menuju puncak, di perjalanan ini kita disambut oleh makhluk makhluk penunggu hutan ini, mulai dari monyet kera, tupai, hingga burung nggak tau namanya, tentu saja kita tetap sopan dan menjaga sikap kita nggak asal - asalan mengganggu mereka, mau bagaimanapun kan kita disini hanya numpang lewat. Disini masih diselimuti oleh pohon pohon yang tinggi jadi masih teduh, medannya juga belum terjal, masih mudah untuk dilewati, tapi disini kita sudah ngos ngosan duluan, dalih dalih sudah semangat dari rumah, ternyata belum smpai pos 1 saja sudah ngos ngosan. Mungkin itu akibat naik gunung tanpa persiapan fisik sebelumnya, sistem tubuh kita jadi kaget. Tapi tentu saja kita belum menyerah, jalan dengan alon alon kelakon dan akhirnya kita sampai di Pos 1 pada pukul 16.28. Sampai di Pos 1 kita istirahat sejenak.
Pos 1 : Dok Malang
Pos 1 : Dok Malang - Pos 2 : Pandean
Kita istirahat 10 menit dan langsung melanjutkan perjalanan ke Pos berikutnya. Pepohonan masih lebat, jalur juga belum terlalu berat masih sama seperti sebelumnya. Banyak nyanyian nyanyian burung yang terdengar seperti bahagia menyambut kita disini, hehehehe. Dalam perjalanan kita di sini baru berpapasan dengan pendaki lain, kita saling bertegur sapa, salam, memberi semangat dan memberi motivasi bahwa pos selanjutnya tinggal 5 menit lagi, dan tenyata masih setengah jam, agak baper memang, tapi mungkin moment seperti inilah yang menjadikan aura interaksi sosial di gunung terasa berbeda dari hingar bingar biasanya, moment seperti inilah yang menjadikan perjalanan disini menjadi lebih spesial dan berkesan. Setelang mengarungi medan, kita akhirnya sampai di Pos 2 pada pukul 17.26, disini kita bertemu juga dengan teman teman pendaki dari Solo yang sudah menuruni gunung. Disini kita lanjutkan dengan bercengkerama bersama sejenak sambil melepas penat.
Pos 2 : Pandean
Pos 2 : Pandean - Pos 3 : Batu Tulis
Setelah beristirahat dan bercengkerama sejenak, kita melanjutkan perjalan ke pos berikutnya, hari sudah sudah senja, burung burung mungkin sudah kembali ke rumahnya, tidak terdengar suara kicauan berisik dari burung burung lagi. Disini kita mulai menggunakan senter, terlihat di sekitar jajaran punggung punggungan gunung, pohon pohon tinggi sudah mulai berkurang hingga tinggal pohon pohon pendek saja. Medan yang dilalui sudah mulai sedikit terjal. Setelah mengikuti jalur, akhirnya sampai di Pos 3 dan hari sudah gelap pukul 18.12. Di pos 3 ini ada 1 grup yang berhenti dan camping di area ini, sepertinya dari tim Basarnas atau apa yang identik dengan seragam orange.
Pos 3 : Batu Tulis
Pos 3 : Batu Tulis - Pos 4 : Sabana 1
Setelah istirahat sejenak, kita melihat sejenak medan untuk menuju Sabana 1, terlihat remang remang bahwa medan ke Sabana 1 menurut saya terjal sekali, dengan kemiringan lereng kurang lebih 60an derajat dengan mata telanjang. Akhirnya dibulatkan tekad untuk melanjutan perjalanan dengan medan yang terjal tersebut. Seperti pepatah Jawa berbunyi alon alon asal kelakon, kita naik pelan pelan dengan berhati hati, disitu untungnya tersedia tali pembantu, jadi kita bisa berpegangan ke tali tersebut agar tidak terjerembab ke bawah, terkadang kita beristirahat sejenak sambil duduk menikmati indahnya panorama Jawa di malam hari, benar benar menawan memang, seperti hamparan bintang bintang di permukaan bumi. Di saat seperti ini sesekali kita bertukar cerita perjuangan, atau hanya diam merenung membuka sebuah sudut pandang, menyingkap sebuah makna, atau hanya diam tertegun menikmati keindahan panorama ini. Bener bener disini saya paham betapa kecil saya, tidak ada apa apanya kita dibanding ribuan hingga ratusan kehidupan di bawah sana, hidup ternyata nggak melulu mengikuti prinsip kekal kita harus ini, kita harus itu, saya harus begini, saya harus begitu, tapi ada manusia lain yang mempunyai hak nya masing masing yang perlu dipertimbangakan, tidak etis dan elok jadinya bila kita terus mengelu-elukan, mendewakan hak pribadi diri kita bila harus menodai hingga harus mengebiri hak milik manusia lain. Setelah melanjutkan perjalan yang cukup berat ini, akhirnya kita sampai di Sabana 1 pada pukul 19.18. Di Sabana 1 ini ada beberapa pendaki yang sudah mendirikan tenda camp mereka, tapi suasana sepi tanpa ada suara gaduh berjerit, mengkin mereka sudah terlelap di bawah dinginnya malam itu.
Pos 4 : Sabana 1
Pos 4 : Sabana 1 - Pos 5 : Sabana 2
Selanjutnya pada pukul 19.25 kita bergegas melanjutkan perjalan kita ke Sabana 2, disitulah kita berencana untuk mendirikan camp kita. Medan sama seperti sebelumnya, terjal, berkemiringan tinggi, namun pada medan ini tidak ada tali pembantu, jadi agak sedikit was was kalau tiba tiba terpeleset, jadi harus lebih berhati-hati untuk melewati medan ini. Disini saya sambil melihat ke atas Galaxy Bimasakti, merasa tenang, nyaman, dan mungkin agak sedikit syahdu, cuaca cerah sangat mendukung, taburan bintang hadir menhiasi langit malam itu, tidak lupa sosok sang Dewi Malam yang sedikit enggan mempertontokan seluruh keindahan tubuhnya di malam itu, dalam mengucap syukur untuk apa saja yang terjadi beberapa tempo hari. Setelah perjalanan di medan tersebut akhirnya sampailah kita di Sabana 2 pada pukul 20.30. Disini terlihat ada beberapa tenda yang sudah berdiri kokoh, terlihat juga para pendaki yang saling bercengkerama satu sama lain, berdiskusi, bertukar pikiran, beradu argumen, ada yang bilang orang orang dengan semangat yang sama berkumpul melingkar seprti inilah yang disebut keromantisan sesungguhnya, dalem kan ?.
Pos 5 : Sabana 2
Sesampainya di Sabana 2, kita langsung bergegas untuk mendirikan tenda dome, agak susah memang bila hanya berdua yang mendirikan bagi kami yang noob dalam masalah seperti ini, tapi dengan usaha yang lebih, akhirnya tenda berhasil berdiri dan kita segera masuk ke dalam. Didalam kita langsung menyediakan segala bekal kita kala itu, mulai dari roti, telur, keripik, sosis, mie instan, dan lain lain. Disitu kita langsung menyalakan kompor dan segera mencairkan margarin untuk menggoreng telur dan sosis. Disiapkan roti, letakkan telur goreng di atasnya, tambah sosis, siram dengan saus, letakan lembaran keju di atasnya, dan terkahir tutup lagi dengan roti tawar, entah makanan ini apa tapi kita merasa bersyukur masih bisa makan sehat walaupun berada di atas ketinggian.

Setelah mengisi perut dengan segala bekal, kita langsung bersiap untuk tidur, memejamkan mata, melepas penat yang menumpuk, namun dingin dan kejam nya angin malam mengusik kita untuk memejamkan mata, perlu usaha keras hanya untuk merbahkan dan mengistirahatkan tubuh pada malam itu. Akhirnya saya pribadi terlelap beberapa jam, dan akhirnya saya terbangun, ternyata baru tidur kurang lebih dua jam, disitu saya melihat teman saya yang ternyata belum bisa tidur. Saya terjaga agak lama dan menyempatkan diri untuk memasak mie instan kuah untuk menghangatkan tubuh ini. Dan kemudian saya melanjutkan tidur di tengah kejamnya angin dingin pada malam itu.

Di pagi hari, kurang lebih pukul setengah 5, kita terbangun, dan segera mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan ke puncak yang hanya kurang sebentar lagi. Kita tidak terburu buru, malah kita berhenti dan berlabuh sejenak untuk melihat hamparan langit merah jingga di ufuk timur, matahari mulai menampakkan kesombongannya, tanpa memperhatikan apa saja yang ada di sekitarnya, pagi itu resmi, kejadian, peristiwa, dan perjalan sebelumnya sudah menjadi kenangan yang harus diingat dalam dada dan membulatkan tekad untuk mengisi hari baru dengan lembaran dan tinta baru. 

Pos 5 : Sabana 2 - Puncak Merbabu 3154 mdpl
Setelah menikmati keindahan fajar pagi itu, kita melanjukan perjalanan ke puncak. Medan yang dilalui hampir sama menanjaknya seperti medan sebelumnya, mungkin agak menanjak sedikit, tepi tergolong lebih enak dibandingkan dengan jalur sebelum puncak via Wekas yang berbatu batu, disini lebih didominasi dengan tanah, mungkin hari sebelumnya sudah turun hujan hingga tanah disini terlihat basah dan tidak berdebu, tapi beberapa bagian licin dilalui jadi mesti berhati hati. Pada pukul 6.28, akhirnya kita sampai juga di puncak pertama, yaitu Puncak Kenteng Songo.  Di atas Puncak ini terlihat jajaran gunung gunung di Jawa, Merapi, Sindoro, Sumbing, Andong, dan gunung lain. 
Puncak Klentengsongo
Disini kita mengabadikan momen dan hengkang ke puncak selanjutnya, yaitu Puncak Trianggulasi. Pemandangan disini tidak jauh berbeda dengan Puncak Klentengsongo, setelah menikmati dan mengabadikan beberapa moment, pukul 7.30 kita langsung turun kembali ke tempat camp berada, yaitu di Sabana 2.

Puncak Trianggulasi
Dalam perjalanan turun dari puncak, kita sempat berhenti beberapa kali untuk mengabadikan moment hingga landscape panorama yang sayang kalau ditinggalkan begitu saja, mulai dari kokohnya Gunung Merapi, hingga formasi alang alang yang melambaikan tulang sejajarnya mengikuti arah angin bertiup.





Sesampainya di tempat camp, kita langsung memasak roti isi seperti tadi malam hingga sayur sop yang berkomposisikan cilok, bunga kol, wortel, sayur kobis, dll. Kita santap bersama, setelah habis kita bergeas merapikan segalanya, mulai dari barang bawaan, hingga melipat ulang dome kita. Setelah semua beres, kita segera bergegas turun ke bawah dan meninggalkan Gunung Merbabu ini. Tidak lupa juga kita juga mesti membawa turun sampah yang kita buat, ibarat kita di gunung itu sudah merusak keperawanan dari gunung tersebut, kita harus bertanggung jawab atas ulah yang kita perbuat, tidak hanya merusak saja tanpa ada pertanggungjawaban, membawa sampah ke bawah merupakan slah satu cara kita betanggungjawab untuk menyelamatkan image Gunung Merbabu di masa depan. Seperti pepatah yang selalu digaungkan dimanapun kita berada di gunung yaitu :




"Take nothing but Picture, Leave nothing but footprint, and Kill nothing but Time"

Akhirnya pukul 9.34 kita mengakhiri camp ini dengan menuruni Gunung Merbabu dengan persaan puas, bahagia, dan mungkin ada rasa sedih dan haru didalamnya. Karena segala sesuatu di dunia pasti punya 2 sisi, disisi lan kita merasa bahagia, di sisi lain pula terkadang kita merasa sedih. Jadi dalam setiap masalah yang kita hadapi, kelelahan yang kita lalui, kegalauan yang kita rasakan, pasti ada sisi positif lain di balik masalah, kelelahan, atau kegalauan yang kita rasakan. Tergantung diri kita, melihat hal tersebut dengan sebelah mata, atau dengan kedua mata, atau malah kita tidak ingin mebuka sebelah mata yang satu, atau mungkin tidak mau membuka satu mata pun.


Setelah melalui perjalan yang cukup panjang, akhirnya kita sampailah di Pos untuk mengurus data pendaki turun, dan langsung menuju basecamp Pak Supar. Sekitar pukul 14.30 kita hengkang dari basecamp untuk menuju rumah saya di Sleman. Satu kata untuk perjalanan ini, Awesome !

Itulah agak banyak pengalaman pendakian Gunung Merbabu yang bisa saya bagikan / ceritakan, sebenarnya masih banyak sekali cerita/pengalaman yang belum tersampaikan, tapi terkadang ada pengalaman yang bisa dengan mudah dibagikan, ada juga yang tidak bisa disampaikan dan hanya bisa diingat di dalam otak, dan dirasakan di dalam hati. Dan biarkan tulisan ini menjadi sebuah media untuk mengingat masa lalu di masa depan.

Mohon maaf apabila banyak kesalahan dalam penulisan tulisan di atas, saran dan kriti sangaat saya terima sekali untuk perbakan dan koreksi kedepannya,
terimakasih bagi yang mampir dan membaca sampai bawah, kritik/saran bisa kirim via emal / kolom kometar.
Selamat Malam,
Wassalamualaikum Wr. Wb

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Tiada Tara Hingga Duga

Sudah 365 hari sudah cerita drama klasik telah terkompilasi dengan baik, gema riung kerontah memori masih terpaut dalam ingatan tanpa berdebu sedikitpun, alur demi alur jalan cerita masih tersimpan baik di ingatan jangka pendek ini, mulai dari titik temu awal hingga setiap jalan setapak masih menghantui dan tak ingin singgah pergi dari diri. Menjadi kompilasi salah satu kenangan terbaik dari 2 dekadi manusia ini di dunia. Setiap drama, pertengkaran, pertikaian, kisah bahagia, suka, duka, tawa masa remaja dewasa terpaut satu sama lain, tak hendak beralih tak ingin usai sedikitpun. Pekan Ilmiah Mahasiswa 32, ajang bergengsi bagi mahasiswa seluruh negeri, dari penjuru kota hingga pelosok negeri, salang bersikut sisi demi mempertahankan asa dan kuasa nya sendiri. 1614 mahasiswa berjuang mengendalikan asa hingga berada di panggung yang mungkin menjadi panggung kehormatan. Dan disini ada kami, 5 manusia dengan latar belakang berbeda, melebur bersama 1614 manusia lainnya, berjuang mempertahan...

Seperti Semula

tak terasa, telah beranjak ratusan hari dimana pintu-pintu beranda depan rumah tak berbuka dihantui oleh rong-rongan binatang yang tak kenal malam dan siang. menutup rapat sela-sela beranda hingga tak ada jua yang hendak bersua bersama. menepi dalam ruang mencari kesendirian tanpa mereka apa yang disana. menanti hingga musim paceklik kunjung henti, menanti aroma daun dahan kering di pinggiran setapak jalan raya. dan yang dinanti kini akhirnya disini, setiap pintu beranda berbuka lebar tak ada sekat menyapa. tak teraroma lagi sengatan bau busuk di depan teras, telah terhablur bersama kering debu tanah, menjadinya satu dan tak ada yang tersisa, lenyap sudah semua bau pekat di depan beranda. setapak jalan telah terbingar barisan suar cahaya di remang malam, menghentak nada mendengung sorak suara kemenangan, bersuka ria bersama. pagi telah kembali, gema bisikan di genggaman tangan kembali terkumandang di setiap meja depan beranda, bersamaan dengan peluh mata membasahi dinding-dinding yang ...

Damar dan Amara (Bagian Satu)

Bagian 1 : Wanita Sepeda Mini Pagi ini sepi, pohon-pohon masih pasrah bergelayutan di dinginnya pagi, burung-burung jantan juga masih menetap di dalam sangkarnya, bersama sang betina dan anak anaknya. Bumbungan asap rokok perlahan menghilang berbaur dengan udara, semakin ke atas asap menjadi hilang, sesapan dan sebulan puntung rokok menjadi teman setia bagi Gadhing di kala pagi hari, sembari sesekali menyeruput kopi buatan nya sendiri, menikmati pagi di halaman rumahnya, duduk termangu melihat suasana pagi itu.  Sudah menjadi kebiasaan bagi Gadhing tiap pagi duduk di halaman ditemani secangkir kopi pahit buatannya sendiri dan sepuntung rokok kretek. Kebiasaan ini dilakukannya setelah selesai memasak sarapan dan sedang menunggu Damar, anak laki-laki satu-satunya yang berusia 11 tahun selesai mandi. "Dhing, Gadhing, pagi pagi udah ngalamun wae, cari istri sana biar ada yang mijetin di pagi hari, hahaha !" "Asu kau, pagi - pagi udah ngajak ribut !" refleks G...