Langsung ke konten utama

Damar dan Amara (Bagian Tiga)

Bagian Tiga : Pupus

Alarm di tubuh ku masih berfungsi dengan baik, aku bangun jam 4.00, seperti biasa, 30 menit sebelum adzan Subuh. Aku langsung menuju ke rumah bagian belakang, dapur, mempersiapkan segala hidangan untuk sarapan, mulai dari nasi, sayur, hingga lauk tempe semua aku buat sendiri, tidak perlu bertanya soal rasa masakanku, hidup 10 tahun tanpa wanita pendamping sudah membuatku beradaptasi, ya, beradaptasi bagaimana membuat hidangan lezat untuk Damar, anak kesayanganku.
Pagi ini tidak seperti pagi biasanya, aku lebih bersemangat dari biasanya, ya, Aku dan Damar akan pergi ke Gembiraloka,sudah menjadi wacana sejak lama, tapi baru keturutan hari Minggu ini.
Pukul 4.30, suara Adzan Subuh berkumandang dari langgar belakang rumah, aku langsung menunda segala pekerjaan pagi ini sejenak, langsung menuju ke langgar, ikut menunaikan ibadah sholat Subuh.
"Nanti narik Dhing ?" tanya Dharmo sembari keluar dari langgar tua ini.
"Belum dulu Mo, Damar ngajak ke Gembiraloka", jawabku pendek dengan sedikit tersenyum.
"Wah padahal Hari Minggu pasti rame Kotagedhe ini,tapi tak apalah, semoga aja dapet jodoh di Gembiralokanya!" tandas Dharmo sambil tertawa lebar.
"Segawon kau!" aku murka sambil memoles kepala Dharmo, itulah keseharianku bila bertemu Dharmo, selalu membahas masalah jodoh dan jodoh, sampai bosan aku dibuatnya, tapi tidak apa-apa, sifatnya memang homoris, aku tidak pernah memasukkan hati semua ocehan dia, toh aku sudah tidak peduli dengan jodoh, aku masih mengutuk diriku sendiri, entah sampai kapan.
"Damar, bangun,Subuh dulu!" gelayut suara ku memanggil Damar seketika aku memasuki rumah, aku langsung menuju dapur melanjutkan urusan yang tadi kutunda,mulai melanjutkan memasak nasi,menumis sayur tempe, dan menggoreng telur dadar, hari ini aku memasak sedikit banyak, untuk sarapan, dan untuk bekal nanti di Gembiraloka. Aku menghiraukan Damar pagi ini, hari ini tidak ada sekolah, biarlah dia tidur lebih lama, mungkin dia lelah seminggu sekolah, malamnya langsung belajar, untuk hari ini, biarlah dia beristirahat lebih lama.
Tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi, kali ini aku memanggil Damar dengan nada tinggi.
"Damar bangun udah jam 7, jadi ke Gembiraloka tidak kau!" panggilku dengan nada tinggi tapi Damar tetap tidak menjawab, membuat ku gerang, aku langsung menuju kamarnya. Sesampai di pintu kamarnya, aku memanggilnya lagi, tapi tetap saja, dia tidak bangun. Aku langsung mendekatinya, melihat dan mengamatinya. Aku tidak tau mengapa, tubuh Damar terlihat lemas, aku memanggilnya sekali lagi dengan nada lembut.
"Damar, bangun nak!", tetap saja, anakku masih terkulai lemas, kemudian aku menyentuh keningnya, seketika aku terkaget dan heran, panas sekali kening anakku, seketika aku langsung menyimpulkan bahwa anakku demam tinggi, aku langsung bergegas membawanya ke klinik atau rumah sakit dengan becakku, terbesit dalam pikiran gagal rencana kita ke Gembiraloka, aku sudah tidak peduli, aku harus membawa anakku ke rumah sakit.
Pukul 7 pagi, melesat membelah jajaran Kotagedhe, melesat menghiraukan apapun disisi jalan, tapi dalam hati aku terfikir, aku harus kemana, klinik mana yang buka Minggu pagi seperti ini, seketika aku teringat wanita berkerudung cokelat, ya, dia memintaku mengantarnya pagi ini ke RS Wirosaban, tanpa pikir panjang,itulah tempat yang aku tuju.
Perjalanan 25 menit penuh khawatir dan bersitegang membuatku keringat membasahi tubuhku.
Aku langsung menggendong dan membawa masuk anakku ke dalam, hari Minggu pagi ini sepi, hampir tidak ada pengunjung yang berobat, aku bersyukur atas hal itu, anakku langsung dibawa ke sebuah ruangan, disitu anakku diperiksa, aku mengawasi dengan seksama.
"Tenang bapak, anaknya hanya demam biasa, tapi karena tidak segera ditangani, tubuh anak anda jadi lemas seperti ini, jadi harus kita infus sesegera mungkin, untuk Bapak dipersilahkan menunggu di luar ya, semuanya akan kita tangani dari sini!", dokter agak tua yang memeriksa anakku memberi penjelasan dan secara halus mengusirku dari ruangan ini.
Tanpa pikir panjang dan menurut kata dokter ini aku langsung meninggalkan ruangan, duduk di lobi ruang tunggu, banyak pikiran yang memenuhi otakku.
"Hari ini seharusnya menjadi hari bahagia untuk keluarga kami, hari yang sudah dinanti Damar dari lama, andai saja aku mengiyakannya di awal dulu, mungkin hari ini tidak akan terjadi, aku mengecewakan anakku satu-satunya" batinku dalam hati.
Aku merebahkan punggungku di kursi tunggu, memejamkan mataku sekejap.
"Abang becak?", seorang wanita memanggil dari depan, aku membuka mataku, seketika aku tau siapa dia, si wanita kerudung cokelat muda, tapi hari ini tidak, dia berkerudung merah tua, dengan pakaian blus santai, tapi tetap sopan, aku berlagak kaget dibuatnya.
"Oh iya?" aku menjawab dengan sedikit nada tinggi,
"Abang ngapain disini, tidak jadi ke Gembiraloka ?", seperti biasa, wanita ini berlagak sudah kenal lama dan banyak bertanya.
"Oh, Damar tiba-tiba tadi pagi demam, jadi bergegas saya bawa kesini, rencana ke Gembiraloka mau tidak mau ya batal" jawabku masih singkat
"Damar anak abang?, oh gimana bang sekarang kabarnya" wanita ini bertanya lagi, dengan mimik khawatir, jarang sekali aku melihat mimik wanita seperti ini.
"Sudah ditangani dokter tadi, badannya lemas jadi harus diinfus dulu, sekarang mesti menunggu".
"Bagus lah kalau begitu", wanita itu mendekat dan duduk disampingku, aku tidak tau, apa jalan pikiran dia untuk memutuskan duduk di sampingku.
"Jadi menjenguk teman ?" tanyaku datar sekedar formalitas.
"Iya jadi, tadi hanya sebentar, tidak diizinkan sama suster kalau lama-lama", wanita itu merebahkan punggungnya di bangku sampingku.
"Oh, begitu", jawabku masih datar.
Wanita itu terdiam mengamati rombongan ibu-ibu para penjenguk yang entah ingin menjenguk sanak famili atau kerabat atau tetangganya, rombongan itu seketika merusak suasana di ruang tunggu, yang tadinya sepi, seketika berubah seperti pasar dadakan.
"Inilah hal di Jogja yang jarang saya jumpai di Jakarta, hebat!" wanita itu berbicara pendek sembari mengamati rombongan tadi, tapi aku tahu maksudnya. Aku ingin menjawabnya, tapi dari samping dokter yang memeriksa anakku menghampiriku, tak jadi aku menanggapi wanita ini.
"Bapak Gadhing?" cakap dokter itu berwibawa.
"Iya Pak Dokter, bagaimana ?", sahutku seraya berdiri, wanita disampingku mengikutiku berdiri, aku tak tahu mengapa.
"Damar sudah bangun bapak". ucap dokter laki-laki itu. Seraya aku langsung bahagia mendengar kabar itu, aku bergegas menuju kamar anakku, wanita itu juga mengikuti.
"Terimakasih dok", ucapku ke dokter tadi sebelum meninggalkan ruang tunggu.
Sesampai di ruang anakku, wanita itu tetap mengikutiku masuk, aku tidak tega melarangnya, aku biarkan dia masuk. Damar yang menyapaku pertama,
"Pagi bapak, tidak jadi ke Gembiraloka tidak apa-apa kan ?" ucap anak ini merasa bersalah, diikuti dengan gelagak tawa darinya.
"Mungkin bisa nanti malam?" candaku membalas sapaan Damar, kami berdua tertawa.
"Bapak, Ibu ini siapa ?, Damar berhenti tertawa dan menanyakan wanita di sampingku, aku kaget dan bingung mau menjawab apa, aku tidak tau sama sekali tentang wanita ini, bahkan namanya saja aku tidak tau, aku diam mematung tak tahu harus bagaimana.
"Halo Damar, perkenalkan, saya Ibu Amara, teman Bapak kamu, gimana kabar mu ? udah baikan ?, wanita itu memperkenalkan dirinya, sembari memegang kening anakku, aku masih terdiam mematung, tapi kali ini bukan karena aku tidak bisa menjawab pertanyaan anakku, tapi kali ini aku pertama kalinya mengetahui nama wanita ini ditambah dia berani memegang kening anakku, aku tak tahu harus berbuat apa.
"Oh, sudah baikan bu, tumben bapak ada teman perempuan seperti ibu!" celetuk anakku menjawab sambil tertawa, wanita berama Amara juga ikut tertawa, aku hanya tersenyum sedikit,mengikuti suasana.
Percakapan Damar dan Amara terus berlangsung, aku tidak tahu apa-apa dengan wanita ini, bisa cepat akrab dengan anakku, ada unsur magis apa dengan wanita ini.
Yang kutahu Dia adalah Amara, wanita Jakarta, yang sekarang akrab dengan anakku, itu saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Tiada Tara Hingga Duga

Sudah 365 hari sudah cerita drama klasik telah terkompilasi dengan baik, gema riung kerontah memori masih terpaut dalam ingatan tanpa berdebu sedikitpun, alur demi alur jalan cerita masih tersimpan baik di ingatan jangka pendek ini, mulai dari titik temu awal hingga setiap jalan setapak masih menghantui dan tak ingin singgah pergi dari diri. Menjadi kompilasi salah satu kenangan terbaik dari 2 dekadi manusia ini di dunia. Setiap drama, pertengkaran, pertikaian, kisah bahagia, suka, duka, tawa masa remaja dewasa terpaut satu sama lain, tak hendak beralih tak ingin usai sedikitpun. Pekan Ilmiah Mahasiswa 32, ajang bergengsi bagi mahasiswa seluruh negeri, dari penjuru kota hingga pelosok negeri, salang bersikut sisi demi mempertahankan asa dan kuasa nya sendiri. 1614 mahasiswa berjuang mengendalikan asa hingga berada di panggung yang mungkin menjadi panggung kehormatan. Dan disini ada kami, 5 manusia dengan latar belakang berbeda, melebur bersama 1614 manusia lainnya, berjuang mempertahan...

Seperti Semula

tak terasa, telah beranjak ratusan hari dimana pintu-pintu beranda depan rumah tak berbuka dihantui oleh rong-rongan binatang yang tak kenal malam dan siang. menutup rapat sela-sela beranda hingga tak ada jua yang hendak bersua bersama. menepi dalam ruang mencari kesendirian tanpa mereka apa yang disana. menanti hingga musim paceklik kunjung henti, menanti aroma daun dahan kering di pinggiran setapak jalan raya. dan yang dinanti kini akhirnya disini, setiap pintu beranda berbuka lebar tak ada sekat menyapa. tak teraroma lagi sengatan bau busuk di depan teras, telah terhablur bersama kering debu tanah, menjadinya satu dan tak ada yang tersisa, lenyap sudah semua bau pekat di depan beranda. setapak jalan telah terbingar barisan suar cahaya di remang malam, menghentak nada mendengung sorak suara kemenangan, bersuka ria bersama. pagi telah kembali, gema bisikan di genggaman tangan kembali terkumandang di setiap meja depan beranda, bersamaan dengan peluh mata membasahi dinding-dinding yang ...

Damar dan Amara (Bagian Satu)

Bagian 1 : Wanita Sepeda Mini Pagi ini sepi, pohon-pohon masih pasrah bergelayutan di dinginnya pagi, burung-burung jantan juga masih menetap di dalam sangkarnya, bersama sang betina dan anak anaknya. Bumbungan asap rokok perlahan menghilang berbaur dengan udara, semakin ke atas asap menjadi hilang, sesapan dan sebulan puntung rokok menjadi teman setia bagi Gadhing di kala pagi hari, sembari sesekali menyeruput kopi buatan nya sendiri, menikmati pagi di halaman rumahnya, duduk termangu melihat suasana pagi itu.  Sudah menjadi kebiasaan bagi Gadhing tiap pagi duduk di halaman ditemani secangkir kopi pahit buatannya sendiri dan sepuntung rokok kretek. Kebiasaan ini dilakukannya setelah selesai memasak sarapan dan sedang menunggu Damar, anak laki-laki satu-satunya yang berusia 11 tahun selesai mandi. "Dhing, Gadhing, pagi pagi udah ngalamun wae, cari istri sana biar ada yang mijetin di pagi hari, hahaha !" "Asu kau, pagi - pagi udah ngajak ribut !" refleks G...