Bangsa Indonesia ialah bangsa
yang menjunjung tinggi budaya gotong royong dari dulu nenek moyang bangsa
lahir. Serat luhur kegotong-royongan masih terawat asri di inti kehidupan
masyarakat Indonesia hingga saat ini mulai dari ujung pelosok desa hingga
metropolitan pusat ibukota. Gotong royong, tak mungkin jemu digerus derunya
waktu.
Gotong royong pada dasarnya
berasal dari dua kata, gotong yang berarti bekerja dan royong yang berarti
bersama, sehingga gotong royong diartikan sebagai semangat bekerja secara
bersama-sama demi tujuan yang bersama pula. Semangat kegotong-royongan akan
terasa kental apabila berada di pelosok desa. Banyak partisi dan agenda di
pedalaman desa dengan semangat kegotongroyongan, kerja bakti bersih sungai,
gropoyokan tikus, hajatan, hingga sekedar menanak berkat sebagai contohnya.
Terasa hangat dan tenteram berada
di bangsa nan makmur ini, tak perlu khawatir siapa yang akan membantu
mendirikan tenda di hajatan nanti, tak perlu lamun mencari tenaga untuk
bersusah bersama, tak perlu cemas menanti siapa yang menandu ke lahat. Semua
partisi kecil dilakukan dan dilalui bersama, rasa penat dan lelah berbanding
terbalik dengan kedatangan rombongan peserta gotong royong. Tak perlu kesana
kemari berpikir gaji, teh hangat dan jajanan pasar jadi jalan kunci.
Namun,
Semangat bergotong royong yang
biasanya dilalui dengan berdekatan bersama, terasa hambar di tengah pandemi yang tak
kunjung henti ini. Menjaga jarak dan pegangan menjadi alasan krusial di tengah
bahaya yang menengadah. Gebrakan dari desa untuk Indonesia dalam pencegahan
persebaran pandemi kembali diuji. Karantina dan Isolasi mandiri tiap desa
berlomba-lomba meraih atensi. Kangen vidcall aja, ketemu lewat vcs say, keluar
boleh tapi di dalam, dan masih banyak pamflet besar dengan anekdotnya
masing-masing desa sebagai himbauan untuk keperluan karantina wilayah.
Ruang pencegah kendaraan masuk
dilengkapi pembersih disinfektan menjadi terobosan yang primadona dalam
persaingan tiap wilayah. Jumlah spot disinfektan, waktu paruh, keelokan
tampilan menjadi bahan perbincangan hangat. Semangat kompetitif antar desa
memberikan vibes yang positif di dalam menjaga wilayahnya di tengah pandemi
ini. Namun, seperti buah simalakama, manis tak selamanya manis, jika terus
disesapi, pahit pun makin menjadi. 7 dari 11 spot karantina wilayah mandiri yang saya lewati digotong-royongi oleh puluhan orang yang menjaga wilayahnya dari persebaran
pandemi. Berdistraksi dan bercakap gurau mengisi waktu jaga gerombolan
perubahan di spot karantina sesuai dengan semangat bergotongroyong. Himbauan
tidak bergerombol dan tetap menjaga jarak hanya sebatas masuk dan keluar
telinga. Tak ada yang tahu sewaktu-waktu pada titik yang diharapkan, 1 sentuhan
yang tak tersengaja dan tak diketahui membawa persebaran pandemi makin luas,
menjadi bom waktu yang siap bersedia meluluhlantahkan wilayah. Efek domino
terus bergejolak, teman bergotong-royong, keluarga, hingga cakupan nusantara.
Sama seperti judul, di tengah
pandemi ini gotong royong tak perlu selalu royong. Bekerja sama tak harus
selalu bersama dalam meja dan waktu yang sama.
Komentar
Posting Komentar