ini cerita tentang hikayat putra
semesta bernama asa.
asa, kulit hitam legam dengan rambut berkelibat gelombang,bermuka pasi ruam terbakar
surya.
asa, seorang penjaja buah tanpa hari, tanpa belas dari para penanggung kasih.
penjajak buah, dengan gerobak sempoyongan senantiasa menjelma menjadi griya niscaya
kekal.
asa, dengan gerobak segala ragam buah nan bugar, tetap bergontai rumpang
menapaki setapak lahan gersang.
gerobak ialah rumah idaman sang asa.
buah ialah kudapan makan mengganjal kucuran keringat.
setiap fajar mendongak, bikin kudapan sisa sarapan pagi menjadi bukti diri dan
menghiasi serambi setapak kaki.
gilasan roda pedati menjadi tanda lahir di setapak adimarga abadi.
asa tak pernah bernama mengira.
tak pernah merasa mereka kemana kaki ingin datang.
yang pasti, yang menjadi naluri asa abadi, adalah meraih sirna sang surya, menuju
arah genggaman ujung tanah yang mendekap sang surya.
tak ada yang tidak, senja menjadi hari yang menghiasi asa.
asa, hanyalah manusia lahir dari
rahim semesta pada umumnya.
bukan putra pasak tegap yang
mencakar awan di angkasa.
bukan bongkahan intan permata yang tertekan di bawah tanah.
asa, hanyalah putra biasa, yang lahir dari mereka yang entah kemana.
tepat di puncak gunung punggungan bongkah tanah,
asa terperanjat lelah dengan muka pasrah
balik gunung dikiranya singgasana dekapan surya hanyalah fatamorgana belaka,
masih berletih letih setapak nan gersang yang menanti untuk dihampiri.
dengan kecamuk jiwa putra semesta yang remuk, asa mengecam tatanan alam dunia
hingga pelosok benua.
kecewa dan dendam merasuki akal asa bersengaja lebur menjadi tanah jahanam.
butuh waktu lama hingga asa menjinakkan akal dan jiwa hingga pandangannya teralih ke
belakang pada setapak panjang di bawah sana yang berhasil dilalui, detik ini menjadi asri, naluri sejati alam hijau telah kembali.
bulir buah demi bentuk buah saling menghiasi ranting yang menjalin satu sama lain.
binatang terbang dengan warna merona turut bergembira, bersama para dahan
hijau dan mendongak ke tatapan asa.
asa haru dengan mata berkaca samudra yang hendak meluap ke angkasa.
jiwa dan rasa menjadi lengkap menjinakkan dendam kesumat serupa kutukan yang telah sirna.
asa, kembali bersama pedati, menuju laju tanpa bertuju.

Komentar
Posting Komentar