Langsung ke konten utama

Asa Dengan Tegaknya Sang Asa


ini cerita tentang hikayat putra semesta bernama asa.
asa, kulit hitam legam dengan rambut berkelibat gelombang,bermuka pasi ruam terbakar surya.
asa, seorang penjaja buah tanpa hari, tanpa belas dari para penanggung kasih.
penjajak buah, dengan gerobak sempoyongan senantiasa menjelma menjadi griya niscaya kekal.
asa, dengan gerobak segala ragam buah nan bugar,  tetap bergontai rumpang menapaki setapak lahan gersang.
gerobak ialah rumah idaman sang asa.
buah ialah kudapan makan mengganjal kucuran keringat.
setiap fajar mendongak,  bikin kudapan sisa sarapan pagi menjadi bukti diri dan menghiasi serambi setapak kaki.
gilasan roda pedati menjadi tanda lahir di setapak adimarga abadi.
asa tak pernah bernama mengira.
tak pernah merasa mereka kemana kaki ingin datang.
yang pasti, yang menjadi naluri  asa abadi, adalah meraih sirna sang surya, menuju arah genggaman ujung tanah yang mendekap sang surya.
tak ada yang tidak, senja menjadi hari yang menghiasi asa.
asa, hanyalah manusia lahir dari rahim semesta pada umumnya.
bukan putra pasak tegap yang mencakar awan di angkasa.
bukan bongkahan intan permata yang tertekan di bawah tanah.
asa, hanyalah putra biasa, yang lahir dari mereka yang entah kemana.
tepat di puncak gunung punggungan bongkah tanah,
asa terperanjat lelah dengan muka pasrah
balik gunung dikiranya singgasana dekapan surya hanyalah fatamorgana belaka,
masih berletih letih setapak nan gersang yang menanti untuk dihampiri.
dengan kecamuk jiwa putra semesta yang remuk,  asa mengecam tatanan alam dunia hingga pelosok benua.
kecewa dan dendam merasuki akal asa bersengaja lebur menjadi tanah jahanam.
butuh waktu lama hingga asa menjinakkan akal dan jiwa hingga pandangannya teralih ke belakang pada setapak panjang di bawah sana yang berhasil dilalui, detik ini menjadi asri, naluri sejati alam hijau  telah kembali.
bulir buah demi bentuk buah saling menghiasi ranting yang menjalin satu sama lain.
binatang terbang dengan warna merona turut bergembira,  bersama para dahan hijau dan mendongak ke tatapan asa.
asa haru dengan mata berkaca samudra yang hendak meluap ke angkasa.
jiwa dan rasa menjadi lengkap menjinakkan dendam kesumat serupa kutukan yang telah sirna.
asa, kembali bersama pedati,  menuju laju tanpa bertuju.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Tiada Tara Hingga Duga

Sudah 365 hari sudah cerita drama klasik telah terkompilasi dengan baik, gema riung kerontah memori masih terpaut dalam ingatan tanpa berdebu sedikitpun, alur demi alur jalan cerita masih tersimpan baik di ingatan jangka pendek ini, mulai dari titik temu awal hingga setiap jalan setapak masih menghantui dan tak ingin singgah pergi dari diri. Menjadi kompilasi salah satu kenangan terbaik dari 2 dekadi manusia ini di dunia. Setiap drama, pertengkaran, pertikaian, kisah bahagia, suka, duka, tawa masa remaja dewasa terpaut satu sama lain, tak hendak beralih tak ingin usai sedikitpun. Pekan Ilmiah Mahasiswa 32, ajang bergengsi bagi mahasiswa seluruh negeri, dari penjuru kota hingga pelosok negeri, salang bersikut sisi demi mempertahankan asa dan kuasa nya sendiri. 1614 mahasiswa berjuang mengendalikan asa hingga berada di panggung yang mungkin menjadi panggung kehormatan. Dan disini ada kami, 5 manusia dengan latar belakang berbeda, melebur bersama 1614 manusia lainnya, berjuang mempertahan...

Seperti Semula

tak terasa, telah beranjak ratusan hari dimana pintu-pintu beranda depan rumah tak berbuka dihantui oleh rong-rongan binatang yang tak kenal malam dan siang. menutup rapat sela-sela beranda hingga tak ada jua yang hendak bersua bersama. menepi dalam ruang mencari kesendirian tanpa mereka apa yang disana. menanti hingga musim paceklik kunjung henti, menanti aroma daun dahan kering di pinggiran setapak jalan raya. dan yang dinanti kini akhirnya disini, setiap pintu beranda berbuka lebar tak ada sekat menyapa. tak teraroma lagi sengatan bau busuk di depan teras, telah terhablur bersama kering debu tanah, menjadinya satu dan tak ada yang tersisa, lenyap sudah semua bau pekat di depan beranda. setapak jalan telah terbingar barisan suar cahaya di remang malam, menghentak nada mendengung sorak suara kemenangan, bersuka ria bersama. pagi telah kembali, gema bisikan di genggaman tangan kembali terkumandang di setiap meja depan beranda, bersamaan dengan peluh mata membasahi dinding-dinding yang ...

Damar dan Amara (Bagian Satu)

Bagian 1 : Wanita Sepeda Mini Pagi ini sepi, pohon-pohon masih pasrah bergelayutan di dinginnya pagi, burung-burung jantan juga masih menetap di dalam sangkarnya, bersama sang betina dan anak anaknya. Bumbungan asap rokok perlahan menghilang berbaur dengan udara, semakin ke atas asap menjadi hilang, sesapan dan sebulan puntung rokok menjadi teman setia bagi Gadhing di kala pagi hari, sembari sesekali menyeruput kopi buatan nya sendiri, menikmati pagi di halaman rumahnya, duduk termangu melihat suasana pagi itu.  Sudah menjadi kebiasaan bagi Gadhing tiap pagi duduk di halaman ditemani secangkir kopi pahit buatannya sendiri dan sepuntung rokok kretek. Kebiasaan ini dilakukannya setelah selesai memasak sarapan dan sedang menunggu Damar, anak laki-laki satu-satunya yang berusia 11 tahun selesai mandi. "Dhing, Gadhing, pagi pagi udah ngalamun wae, cari istri sana biar ada yang mijetin di pagi hari, hahaha !" "Asu kau, pagi - pagi udah ngajak ribut !" refleks G...