Langsung ke konten utama

Damar dan Amara (Bagian Lima)

Bagian Lima : Memulai Kembali

Sudah 5 hari berlalu ketika harapan dan doa Damar pupus, ketika yang seharusnya menjadi hari baik tapi tragedi Damar sakit menjadi pertanda sudahlah hari baik. Hari minggu ini aku berjanji, akan mengganti hari baik yang telah sirna, mejadi hari baik yang lebih baik, yaitu tetap membawa Damar ke kebun binatang, seperti yang telah dinantiya.
Hari ini hari Jum'at, berakhir pekan, tepatnya orang-orang berbondong menghabiskan hari setelah 5 hari bertaruh nyawa di derunya hari, lima hari berambisi, dibayar satu hari dengan berfoya, mengabiskan harta. Era sekarang ini, memborong barang di pasar idaman ialah cara berfoya, di Pasar Kotagedhe, terbebas dari kata metropolitan, terbebas dari idealis kaum kapitalis di penjuru pelosok ibu kota, sederhana.
Momentum ini menjadi tradisi bagi Gading, untuk berambisi mengais pundi-pundi kantong saku celana terisi, dan dengan tekad demi Damar, semangat nya pun sempurna.
Sudah 7 kali putaran, ambisi dan birahi mengais rejeki Gadhing masih belum jua sirna, namun apalah daya, badan sudah tak berkuasa, menunggu baginya istirahat ialah waktu bagi tenaganya bersukacita, kembali mengisi energi yang telah hilang. Duduk, menanti tenaga kembali, disambi dengan membaca cerita lawas, buku berisi cerita nabi yang ada di pojok baca Pasar Kotagedhe. Duduk bersila, termangu dengan layang kata kata didalamnya, ditemani kopi bersama sesapan rokok yang di jari manisnya, tenang, tak peduli hari yang telah berlalu, yang ada hanya harap dan doanya, bagi Dhamar di hari Minggu Pagi, mengisi harapan sederhana Damar, yang seharusnya telah lunas di kala Minggu lusa.
Senja remang tenang Gadhing tak abadi dan bertahan lama, semenit menikmati, ternyata sudah buyar diganggu oleh wanita yang baru atau belum dikenalnya, siapa lagi kalau bukan Amara, gadis misterius yang baru saja mengganggu hidupnya. Seperti biasa, dengan polahnya yang idealis.
"Rokok satu bang !", dengan intonasinya yang menyindir, gadis itu lancang mengambil sebatang rokok di samping Gadhing.
Aku hanya terdiam membiarkan gadis ini menyesap asap rokoknya hingga kena batunya sendiri. Kali ini mungkin aku tak akan iba dibuatnya, demi berhenti merokok, gadis ini rela membakar tenggorokannya. Siapa dia, beraninya merubah jalanku yang dia bukan siapa-siapa.
"Baca buku apa bang ? serius sekali !" Amara bertanya, dengan sebulan asap rokok dari mulutnya.
"Nggak baca apa-apa!" jawabku dengan ketus, mengabaikan pertanyaannya.
"Oiya, besok Minggu saya ikut ke Gembiraloka ya bang, Damar memintaku kemarin waktu di rumah sakit". sahut Amara dengan pongahnya.
"Hah ?" jawabku pendek kaget, aku tak tahu harus mengapa, embel-embel Damar membuatku mati langkah, tak tahu harus bagaimana. Aku masih wajahnya tanpa kata.
"Iya, jadi besok Minggu jemput saya dulu di rumah ya, sampai jumpa bang!". jawab Amara sembari menancapkan puntung rokoknya ke tanah, diikuti mengambil batang rokokku yang masih tersisa setengah, dan menancapkannya ke tanah juga.
Gadis misterius itu menghilang dalam keramaian pasar, tak menyisakan jejak apapun, hanya puntung rokok yang dilibaskannya ke dalam tanah.
Tak ada yang mereka apa yang gadis ini tuju. Mengambil batang rokok dihadapanku, ikut membumbungkan kepulan asap rokok berdua, seperti cerita romansa berandalan anak muda, berbagi puntung rokok di pinggiran gedung kota. Aku tahu maksud hinanya, tapi hati ini masih enggan membuka pintu baginya.
Aku bertanya-tanya dalam diam, entah apa yang wanita itu pikirkan. Aku kembali meneruskan bacaanku yang sempat terjeda, diikuti senyum kecil yang hati dan pikiranku pun tak tahu mengapa.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Tiada Tara Hingga Duga

Sudah 365 hari sudah cerita drama klasik telah terkompilasi dengan baik, gema riung kerontah memori masih terpaut dalam ingatan tanpa berdebu sedikitpun, alur demi alur jalan cerita masih tersimpan baik di ingatan jangka pendek ini, mulai dari titik temu awal hingga setiap jalan setapak masih menghantui dan tak ingin singgah pergi dari diri. Menjadi kompilasi salah satu kenangan terbaik dari 2 dekadi manusia ini di dunia. Setiap drama, pertengkaran, pertikaian, kisah bahagia, suka, duka, tawa masa remaja dewasa terpaut satu sama lain, tak hendak beralih tak ingin usai sedikitpun. Pekan Ilmiah Mahasiswa 32, ajang bergengsi bagi mahasiswa seluruh negeri, dari penjuru kota hingga pelosok negeri, salang bersikut sisi demi mempertahankan asa dan kuasa nya sendiri. 1614 mahasiswa berjuang mengendalikan asa hingga berada di panggung yang mungkin menjadi panggung kehormatan. Dan disini ada kami, 5 manusia dengan latar belakang berbeda, melebur bersama 1614 manusia lainnya, berjuang mempertahan...

Seperti Semula

tak terasa, telah beranjak ratusan hari dimana pintu-pintu beranda depan rumah tak berbuka dihantui oleh rong-rongan binatang yang tak kenal malam dan siang. menutup rapat sela-sela beranda hingga tak ada jua yang hendak bersua bersama. menepi dalam ruang mencari kesendirian tanpa mereka apa yang disana. menanti hingga musim paceklik kunjung henti, menanti aroma daun dahan kering di pinggiran setapak jalan raya. dan yang dinanti kini akhirnya disini, setiap pintu beranda berbuka lebar tak ada sekat menyapa. tak teraroma lagi sengatan bau busuk di depan teras, telah terhablur bersama kering debu tanah, menjadinya satu dan tak ada yang tersisa, lenyap sudah semua bau pekat di depan beranda. setapak jalan telah terbingar barisan suar cahaya di remang malam, menghentak nada mendengung sorak suara kemenangan, bersuka ria bersama. pagi telah kembali, gema bisikan di genggaman tangan kembali terkumandang di setiap meja depan beranda, bersamaan dengan peluh mata membasahi dinding-dinding yang ...

Damar dan Amara (Bagian Satu)

Bagian 1 : Wanita Sepeda Mini Pagi ini sepi, pohon-pohon masih pasrah bergelayutan di dinginnya pagi, burung-burung jantan juga masih menetap di dalam sangkarnya, bersama sang betina dan anak anaknya. Bumbungan asap rokok perlahan menghilang berbaur dengan udara, semakin ke atas asap menjadi hilang, sesapan dan sebulan puntung rokok menjadi teman setia bagi Gadhing di kala pagi hari, sembari sesekali menyeruput kopi buatan nya sendiri, menikmati pagi di halaman rumahnya, duduk termangu melihat suasana pagi itu.  Sudah menjadi kebiasaan bagi Gadhing tiap pagi duduk di halaman ditemani secangkir kopi pahit buatannya sendiri dan sepuntung rokok kretek. Kebiasaan ini dilakukannya setelah selesai memasak sarapan dan sedang menunggu Damar, anak laki-laki satu-satunya yang berusia 11 tahun selesai mandi. "Dhing, Gadhing, pagi pagi udah ngalamun wae, cari istri sana biar ada yang mijetin di pagi hari, hahaha !" "Asu kau, pagi - pagi udah ngajak ribut !" refleks G...