Langsung ke konten utama

Akhir dan Awal

 


Dekade Mendatang

Ting Tong.

Tepat suara pertama lonceng tempat peribadatan di ujung jalan membangunkan ragaku, menjadinya terjaga seperti sedia kala. Satu persatu bunyi lonceng kuhitung, demi memastikan jam berapa sekarang. Ya, lonceng berhenti tepat di jumlahnya ke 12, sembari kumengamati selongsong jendela tua diseberang kamar, terlihat remang dan gelap, tanpa cahaya. Tepat pukul 12 malam, pertanda pergantian dekade telah pada puncaknya.

Entah, jiwa nan raga ini tak merasa berbeda. Enggan tiba pertanda berkobar rasa semangat di beberapa detik pertama dekade baru ini. Enggan jua rasa iba dan sengsara, atas apa yang telah berlalu dari dekade lampau. Pageblug panjang di segala penjuru desa nyatanya telah mengebaskan naluri dan hati hingga cacat merasa. Entah, apa yang terjadi pada mereka di luar sana, yang pasti ada dua mereka.

 Mereka yang pertama,

dengan gamang membasuh segala coretan pena hitam di buku lusuhnya, berupaya menggantinya dengan coret tulisan ceritera baru. Telah merasa hina atas perlakuan dunia masa lalu padanya. Enggan menerka atas luka tusuk belakang yang menyisakan luka bernanah hingga sekarang. Duka menjadinya teman atas masa yang telah hengkang. Merasa ingin berpindah dan menghapus memori dari segala yang terjadi di kemarin hari, menjadi nya memori baru yang akan dituju.

 Mereka yang kedua,

Dengan lantang mengabadikan segala coretan pena di buku lusuhnya, tetap bersahaja menggoreskan larik demi larik kisah ceritera yang akan dihampiri. Merasa bangga atas dosa yang diraih dibelakang hari, berani bertekad menjadinya ladang pahala di kemudian hari, atau malah berupaya tetap melantangkan segala suara dosanya di masa mendatang. Tetap mematri segala kenangan memori di belakang hari, untuk menjadinya bekal karsa untuk masa mendatang.

Dan disini, masih terbaring layu di atas ranjang seberang jendela, Enggan mereka apa yang telah terjadi di belakang, Enggan jua menerka apa yang akan terjadi mendatang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Tiada Tara Hingga Duga

Sudah 365 hari sudah cerita drama klasik telah terkompilasi dengan baik, gema riung kerontah memori masih terpaut dalam ingatan tanpa berdebu sedikitpun, alur demi alur jalan cerita masih tersimpan baik di ingatan jangka pendek ini, mulai dari titik temu awal hingga setiap jalan setapak masih menghantui dan tak ingin singgah pergi dari diri. Menjadi kompilasi salah satu kenangan terbaik dari 2 dekadi manusia ini di dunia. Setiap drama, pertengkaran, pertikaian, kisah bahagia, suka, duka, tawa masa remaja dewasa terpaut satu sama lain, tak hendak beralih tak ingin usai sedikitpun. Pekan Ilmiah Mahasiswa 32, ajang bergengsi bagi mahasiswa seluruh negeri, dari penjuru kota hingga pelosok negeri, salang bersikut sisi demi mempertahankan asa dan kuasa nya sendiri. 1614 mahasiswa berjuang mengendalikan asa hingga berada di panggung yang mungkin menjadi panggung kehormatan. Dan disini ada kami, 5 manusia dengan latar belakang berbeda, melebur bersama 1614 manusia lainnya, berjuang mempertahan...

Seperti Semula

tak terasa, telah beranjak ratusan hari dimana pintu-pintu beranda depan rumah tak berbuka dihantui oleh rong-rongan binatang yang tak kenal malam dan siang. menutup rapat sela-sela beranda hingga tak ada jua yang hendak bersua bersama. menepi dalam ruang mencari kesendirian tanpa mereka apa yang disana. menanti hingga musim paceklik kunjung henti, menanti aroma daun dahan kering di pinggiran setapak jalan raya. dan yang dinanti kini akhirnya disini, setiap pintu beranda berbuka lebar tak ada sekat menyapa. tak teraroma lagi sengatan bau busuk di depan teras, telah terhablur bersama kering debu tanah, menjadinya satu dan tak ada yang tersisa, lenyap sudah semua bau pekat di depan beranda. setapak jalan telah terbingar barisan suar cahaya di remang malam, menghentak nada mendengung sorak suara kemenangan, bersuka ria bersama. pagi telah kembali, gema bisikan di genggaman tangan kembali terkumandang di setiap meja depan beranda, bersamaan dengan peluh mata membasahi dinding-dinding yang ...

Damar dan Amara (Bagian Satu)

Bagian 1 : Wanita Sepeda Mini Pagi ini sepi, pohon-pohon masih pasrah bergelayutan di dinginnya pagi, burung-burung jantan juga masih menetap di dalam sangkarnya, bersama sang betina dan anak anaknya. Bumbungan asap rokok perlahan menghilang berbaur dengan udara, semakin ke atas asap menjadi hilang, sesapan dan sebulan puntung rokok menjadi teman setia bagi Gadhing di kala pagi hari, sembari sesekali menyeruput kopi buatan nya sendiri, menikmati pagi di halaman rumahnya, duduk termangu melihat suasana pagi itu.  Sudah menjadi kebiasaan bagi Gadhing tiap pagi duduk di halaman ditemani secangkir kopi pahit buatannya sendiri dan sepuntung rokok kretek. Kebiasaan ini dilakukannya setelah selesai memasak sarapan dan sedang menunggu Damar, anak laki-laki satu-satunya yang berusia 11 tahun selesai mandi. "Dhing, Gadhing, pagi pagi udah ngalamun wae, cari istri sana biar ada yang mijetin di pagi hari, hahaha !" "Asu kau, pagi - pagi udah ngajak ribut !" refleks G...