Langsung ke konten utama

Damar dan Amara (Bagian Empat)

Bagian Empat : Kami Bertiga

Percakapan kecil kami bertiga tandas hingga tepat siang hari, aku memutuskan meninggalkan sejenak obrolan demi mengurus administrasi di depan, mulai membayar biaya perawatan dan informasi jika damar dpat beranjak pulang nanti ashar, untuk saat ini langsung menuju langgar terdekat, untuk menjalankan sholat siang, meninggalkan keromantisan Damar dan Amara yang baru dikenalnya tadi pagi. Setelah sholat, aku memutuskan untuk rebahan sejenak di depan langgar, angin sepoi senada menghantarkan ku cepat terlelap, membiarkan Damar dan Amara di bilik kamar itu, mempercayai Amara untuk menjaga anaknya sejenak.
...
Pukul 2 tepat, aku terbangun, beranjak menuju kamar Damar, untuk mengajaknya pulang, semangatku terhenti seketika smpai di depan gagang pintu kamar Damar, Amara wanita yang bukan siapa-siapa keluargaku tertidur pulas di dipan menemani Damar yang juga tertidur, Aku tak tahu, apa yang harus kulakukan.
Aku duduk merenung di depan bangsal rumah sakit, memikirkan, kenapa dengan wanita itu, kenapa dia terlalu mencampuri kehidupan keluarga ku, kenapa dia begitu peduli.
Pertanyaan-pertanyan di ujung lidah Gadhing semakin memenuhi rongga di pikirannya, tak tahu jawaban apa yang bisa menjelaskan semua pertanyaaan itu, yang pasti, hati Gadhing sedikit demi sedikit mulai terbuka, mulai tersentuh oleh keegoisan dan keajaiban wanita ini, entak apa yang terjadi di masa kemudian, masih menjadi rahasia alam. Yang pasti dimengerti Gadhing hanya satu, terkadang manusia datang di kehidupan kita sebagai berkah dunia, atau malah hanya sebagai pelajaran dunia, tidak keduanya, itulah yang pasti diketahui Gadhing.
Gadhing memutuskan kembali ke kamar anaknya, terlihat Amara sudah terbangun dari tidur panjangnya, berarti sudah waktunya, membangunkan Damar dan pulang ke rumah.
"Gimana bang ?, sudah boleh pulang?", cerca Amara tanpa merasa sungkan.
"Iya sudah, terpaksa harus membangunkan Damar'. jawabku santai.
Damar tiba-tiba terbangun, sembari bertanya, "Sudah boleh pulang bapak ?".
"Sudah, ayo segera, keburu malam!", sembari membantu Damar bangun dri tidurnya.
"Ibu Amara ikut pulang sama kita kan pak?" tanya Damar
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan anakku kali ini, lantas aku melihat wajah Amara, tanpa berkata-kata sedikitpun.
"Iya nak, Ibu ikut pulang bersama Damar", sahut Amara menjawab keheningan kala itu, aku terkaget mendengar jawabannya, lagi-lagi keajaiban wanita ini menghancurkan perasaanku.
"Horeee", sentak Damar sembari naik ke gendongan Bapaknya.
...
Sore itu cuaca cerah, jalanan Kotagedhe seperti biasa, dihiasi alunan kendaraan bermotor, sepatu kuda, hingga suara ramai di trotoar jalan dengan urusannya masing-masing. Suasana seperti ini memang biasa Gadhing rasakan, yang berbeda yaitu di becaknya, ada mereka bertiga, Gadhing mengayuh becaknya, dengan Damar dan Amara sebagai penumpang yanga syik bercerita sana-sini, dan Gadhing hanya menjadi penonton, seperti tukang becak sejatinya, tidak perlu mencampuri urusan penumpangnya.
Sore itu hati Gadhing berkecamuk, hari ini pertama kalinya seorang wanita masuk ke kehidupannya setelah sekian tahun dalam gejolak kesendirian, entah akan menjadi berkah atau pelajaran, tetap menjadi rahasia dunia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Tiada Tara Hingga Duga

Sudah 365 hari sudah cerita drama klasik telah terkompilasi dengan baik, gema riung kerontah memori masih terpaut dalam ingatan tanpa berdebu sedikitpun, alur demi alur jalan cerita masih tersimpan baik di ingatan jangka pendek ini, mulai dari titik temu awal hingga setiap jalan setapak masih menghantui dan tak ingin singgah pergi dari diri. Menjadi kompilasi salah satu kenangan terbaik dari 2 dekadi manusia ini di dunia. Setiap drama, pertengkaran, pertikaian, kisah bahagia, suka, duka, tawa masa remaja dewasa terpaut satu sama lain, tak hendak beralih tak ingin usai sedikitpun. Pekan Ilmiah Mahasiswa 32, ajang bergengsi bagi mahasiswa seluruh negeri, dari penjuru kota hingga pelosok negeri, salang bersikut sisi demi mempertahankan asa dan kuasa nya sendiri. 1614 mahasiswa berjuang mengendalikan asa hingga berada di panggung yang mungkin menjadi panggung kehormatan. Dan disini ada kami, 5 manusia dengan latar belakang berbeda, melebur bersama 1614 manusia lainnya, berjuang mempertahan...

Seperti Semula

tak terasa, telah beranjak ratusan hari dimana pintu-pintu beranda depan rumah tak berbuka dihantui oleh rong-rongan binatang yang tak kenal malam dan siang. menutup rapat sela-sela beranda hingga tak ada jua yang hendak bersua bersama. menepi dalam ruang mencari kesendirian tanpa mereka apa yang disana. menanti hingga musim paceklik kunjung henti, menanti aroma daun dahan kering di pinggiran setapak jalan raya. dan yang dinanti kini akhirnya disini, setiap pintu beranda berbuka lebar tak ada sekat menyapa. tak teraroma lagi sengatan bau busuk di depan teras, telah terhablur bersama kering debu tanah, menjadinya satu dan tak ada yang tersisa, lenyap sudah semua bau pekat di depan beranda. setapak jalan telah terbingar barisan suar cahaya di remang malam, menghentak nada mendengung sorak suara kemenangan, bersuka ria bersama. pagi telah kembali, gema bisikan di genggaman tangan kembali terkumandang di setiap meja depan beranda, bersamaan dengan peluh mata membasahi dinding-dinding yang ...

Damar dan Amara (Bagian Satu)

Bagian 1 : Wanita Sepeda Mini Pagi ini sepi, pohon-pohon masih pasrah bergelayutan di dinginnya pagi, burung-burung jantan juga masih menetap di dalam sangkarnya, bersama sang betina dan anak anaknya. Bumbungan asap rokok perlahan menghilang berbaur dengan udara, semakin ke atas asap menjadi hilang, sesapan dan sebulan puntung rokok menjadi teman setia bagi Gadhing di kala pagi hari, sembari sesekali menyeruput kopi buatan nya sendiri, menikmati pagi di halaman rumahnya, duduk termangu melihat suasana pagi itu.  Sudah menjadi kebiasaan bagi Gadhing tiap pagi duduk di halaman ditemani secangkir kopi pahit buatannya sendiri dan sepuntung rokok kretek. Kebiasaan ini dilakukannya setelah selesai memasak sarapan dan sedang menunggu Damar, anak laki-laki satu-satunya yang berusia 11 tahun selesai mandi. "Dhing, Gadhing, pagi pagi udah ngalamun wae, cari istri sana biar ada yang mijetin di pagi hari, hahaha !" "Asu kau, pagi - pagi udah ngajak ribut !" refleks G...