Assalamualaikum,
Selamat pagi, siang, hari seluruh teman-teman dimana kalian berada,
Semoga rasa sehat, semangat, dan syukur selalu bersama kalian semua dimanapun kalian berdiri.
Akhir tahun bagi teman di belahan bumi manapun pastilah identik dan klop yang namanya liburan, piknik, dolan, refreshing, atau apapun itulah teman semua nyebutnya. Semisal nggak pergi kemana gitu atau nggak main, pastilah pasti bakal jadi bullyan dan perbincangan negatif buat mereka, di kamar aja lu jualan semangka ?, jones ya lu nggak kemana-mana ?, dua kalimat itu tu yang jadi kalimat pamungkas buat mereka kaum non-liburan. Tapi it's okay lah, biaran mereka, karena mereka nggak tau bener gimana nikmat rebahan sambil mikirin kemajuan negara ini, mereka nggak tau makna rebahan sambil ngrefleksiin kehidupan masing-masing, mereka terlalu fokus sama dunia sampai lupa sama diri mereka, nah mungkin itu sedikit kalimat penenang buat kalian kaum non-liburan, karena aku akhir tahun ini sempat merasakan menjadi kaum liburan yang mungkin biasanya paling gabut, paling rebahan di rumah mager ngapa-ngapain, dan untuk akhir tahun ini aku bela-belain keluar dari kamar kecil di kampung perbatasan untuk keluar mencicipi nikmat yang sempat hambar beberapa bulan ini.
Baik langsung saja, liburan akhir tahun ini aku berkesempatan emas untuk mencicipi dinginnya Jawa Tengah tepatnya di Kabupaten Wonosobo, sebenernya kunjungan ini sudah menjadi agenda berbulan-bulan yang lalu, dikarenakan faktor kemageran yang tinggi baru terlaksana akhir tahun ini. Pada perjalanan ini, aku sendiri berpacu dengan matik plat AB, sebenernya dulu awal banget direncanain buat berdua dari Jogja, tapi teman ada kegiatan lebih penting di rumah, dilanjut mengajak yang lain tapi juga berhalangan, akhirnya memutuskan untuk pergi sendiri seperti pendekar senopati. Sangat disayangkan memang, dijalan sendiri, ngomong sendiri, menikmati ciuman udara sendiri, tapi tidak apa-apa, tidak masalah, tidak perlu menyesal sampai kesal. Selain dari sisi negatif itu, pastilah ada sisi positifnya juga kalau kita ubah cara pandang kita kan, ini jadi perjalanan paling jauh semasa hidup dari rumah kediaman ke tempat tujuan dengan sendirian, pengalaman tambahan kan, pernah baca di sebuah lini sosial media, buat mereka yang berani berpergian sendiri, ke warung makan sendiri, ke warung kopi sendiri, kemana-mana sendiri, hal tersebut menunjukkan kalau kalian itu manusia yang independent, tidak peduli masukan negatif orang, tidak peduli omongan orang, dan mandiri lah, jadi gitu mungkin sedikit sisi positifnya dari perjalananku yang ditemani kesendirian ini (tapi nanti ditemani teman sih, orang ke Wonosobonya mau ke rumah teman :")
Jadi perjalanan ke Wonosobo ini aku tidak berfokus untuk mencicipi keidentikan Kota Kecil Nan Asri ini seperti puncak-puncak punggungannya, deretan manifest pemandian panas buminya, hingga jajaran-jajaran pemandangan kebunnya, tapi untuk perjalanan kali ini, berfokus pada jajanan hidangan yang selama ini mungkin belum pernah aku cicipi, jarang aku liat, ada yang pernah coba juga, tapi dengan embel-embel khas Wonosobo jadi ingin mengkomparasikan nya dengan kekhasan daerah lain. Jadi ini lebih tepatnya wisata kuliner gitu ya, dari jajanan pinggir jalan, warung trotoar pinggir jalan, hingga warung kekunoan.
Perjalanan dimulai selebar kumandang adzan Asar, melewati dan membelah Sungai Progo melewati Jembatan Duwet Kalibawang, dilanjut dengan berhenti di pinggir jalan sebentar untuk membuka telefon genggam dan masuk ke aplikasi Googlemaps untuk membuka rute untuk sampai ke tujuan yaitu kediaman teman di Desa Selogiri, Garung, tertera bahwa perjalanan ini sejauh 86 km dengan kira-kira estimasi perjalanan kurang lebih 2 jam 21 menit. Setelah itu dilanjutkan menyusuri jalan yang sesuai dengan petunjuk arah aplikasi, jalanan sore kali ini cukup basah yang mungkin dikarenakan sehabis turun hujan di sepanjang jalanan. Sore ini disuguhi pemandangan sosial sisi sudut Sungai Progo dimana banyak beberapa penduduk menjajakan durian-durian yang berukuran kepalan tangan hingga montok, mereka berjualan literally di pinggir jalan ya, durian nya mereka taruh tepat di bibir jalan, mulai lansia hingga muda tidak mau kalah untuk menarik para pengendara untuk singgah di daerah kekuasaan para penjual untuk merasakan nikmat durian.
Tidak perlu dijelaskan panjang lebar, setelah perjalanan kurang lebih 3 jam 30 menit, mbelandang jauh dari perkiraan Googlemaps, mungkin dikarenakan aku yang pelan-pelan terlalu menikmati jalanan hingga terkesan lama sekali, akhirnya sampai di kediaman teman, dia saudara sejurusan Geofisika di kampus terhebat Indonesia versi Aan Munandar yaitu UPN "Veteran" Yogyakarta, sebut saja dia Haiydar, orang yang waktu di warung makan yang sering ngasih utangan dan kadang ngutang yang disengaja dan lupa nya disengaja biar tidak bayar/dibayar. Cuaca sudah malam dengan kondisi dingin sekali tentunya berbeda dengan Minggir, kami berbincang sebentar ditemani keluarga dan akhirnya dilanjutkan ke pusat Kota Wonosobo untuk mencicipi makanan super duper khas yaitu Mie Ongklok.
1. Mie Ongklok
Mie (atau bakmi) Ongklok merupakan mie rebus khas Wonosobo dan sekitarnya (Wikipedia, 2019). Jadi intinya mie ongklok itu mie kuning rebus, ditambahi dengan beberapa sayuran seperti kol, daun kucai (lucu ya namanya), dan beberapa sayur lain yang ditambahi dengan kuah kanji yang super kental berwarna coklat muda. Kenapa namanya mie ongklok ? karena waktu pembuatan mie dan sayuran yang dipaki biasanya diongklok atau direbus menggunakan ongklok, seperti saringan gitu dari bambu, tapi sekarang dengan kemajuan zaman dari bambu tersebut digantikan dengan dari kawat besi. Sama seperti aku dan kamu, mie ongklok juga punya hidangan pasangan atau side dish nya, yaitu sate sapi bakar, bedanya cuman aku dan kamu nggak menyatu, sedangkan mie ongklok dan sate sapi nya menyatu sekali gitu. Oke itu pengantarnya, sekarang kesannta bagi aku yang baru pertama kali mencoba mie ongklok, kesannya bingung dan kaget ya, enak sebenernya mungkin baru pertama kali jadi kaget, kuah yang super kental berasanya manis dan benar benar manis jadi mungkin bagi aku hal tersebut di luar dari kebiasaan makan jadi pas awal agak gimana gitu, tapi lama kelamaan enak dan santai makannya, dibantu dengan satenya jadi rasanya lebih enak, mungkin semisal besok makan mie ongklok lagi aku bakal minta mie nya dibanyakin lagi, hehehe, tapi kuahnya disedikitin biar tidak sisa-sisa di mangkok kalau terlalu banyak kuah. Keseluruhan sih enak dan alhamdulillah sudah mengobati rasa penasaran dan terhindar dari mati tanpa pernah makan mie ongklok. Kami belinya di dekat Alun-alun Wonosobo, agak jauh dikit sih, tempatnya berupa gerobak pinggir jalan gitu di tempat yang agak gelap, jadi tidak ada dokumentasi untuk hidangannya. Satu porsi Mie Ongklok + 5 tusuk sate seharga 14.000 Rupiah saja.
Penjajak Mie Ongklok
2. Trotoar Kopi
Kemudian diajak untuk menikmati kopi di tepi jalan seembari menikmati dinginnya kota nan asri seperti anak indi. Jadi setelah mie ongklok kami menuju ke warung kopi pinggir jalan yaitu di Trotoar Coffee dengan slogan "Ngopi Sik Ben Ra Edan", seperti dengan namanya, kedai ini menjual kopi di memakai gerobak di pinggir jalan, tepatnya di Jalan Ronggolawe sekitaran utaranya Alun-Alun Wonosobo. Menu kopi yang dihaturkan bermacam-macam, ada yang asli Wonosobo, ada juga yang namanya aneh-aneh dan susah dihapal dan nggak paham itu apa. Karena aku bukan pecinta kopi (mungkin besok atau kapan aku bakal bikin postingan basa-basi mengenai definisi pecinta kopi kali ya), cap cip cup, aku memesan Coffe Latte dengan harga 8000 rupiah saja. Jadi lapak para penikmat kopi nya itu disediakan tikar kloso dan duduk lesehan di pinggir jalan gitu, jadi simple nya dapet, suasana nya dapet, dingin Wonosobo dapet, ditambah musik mendayu-dayu gitu, indi nya dapet, sambil bercakap-cakap ringan mengenai komparasi potret pendidikan sekitar plus nggrenengi uwong-uwong. Tak tersasa, cuaca yang sangat dingin membuat minuman kami cepat habis dan memaksa memesan lagi, untuk kali ini aku memesan Mocha Drip seharga 7000 rupiah, dan melanjutkan hingga malam. Untuk ini aku tidak perlu memberikan kesan mengenai rasa kopinya ya, tau sendiri kan kenapa. Menurut saya disini harganya tergolong dibawah rata-rata, semua hidangan minuman berharga dibawah 9000, jadi cukup aman di kantong. Buat yang tidak suka kopi, disini juga menyediakan teh-tehan, coklat, red velvet, dan lain-lain. Otentik sih kedai pinggir jalan ini.
Trotoar Coffee
Setelah pukul menunjukkan tengah malam, kami memutuskan untuk kembali ke rumah untuk beristirahat sejenak sembari mereview beberapa film, dan akhirnya kembali ke alam mimpi untuk menyongsong hari esok.
3. Sego Megono
Sego Megono merupakan hidangan karbohidrat khas Wonosobo dan beberada daerah lain di Jawa Tengah. Sebenernya seharusnya ini tidak masuk ke perjanan kuliner kali ini, dikarenakan Sego Megona ini dibelikan untuk sarapan oleh Ibu teman saya, hehehe. Tapi it's okay lah, tak masukin karena ini juga pengalaman pertama mencicipi. Jadi Sego Megono, merupakan olahan berbahan dasar nasi, nasinya yang berbulir-bulir, bukan yang menyatu antar bulirannya, dikarenakan si nasi ini nanti di mix dengan sayur gori (sepertinya) dan pastinya dengan banyak bumbu beserta rempah didalamnya. Nah karena adanya rempah bumbu itulah menjadikan nasi ini berasa gurih gitu, kalau di simplifikasikan ini lebih mirip kayak nasi kebuli dengan kearifan lokal. Sego Megono ini juga punya pasangan sehati sejiwa nih, yaitu Tempe Kemul, yaitu seperti tempe mendoan tipis gitu, namun yang membedakan tempe kemul ini adonan tepungnya menggunakan daun khas yaitu kucai, pakai i ya, bukan pakai y, kucay, lucu kan namanya. Untuk harganya kurang tau karena dibeliin dan nggak enak lah tanya harga, yang tau harga pasaran Sego Megono bisa ya komen dibawah :).
4. Es Dawet Duren
Untuk hari kedua saya diberi kebebasan untuk menelisik satu dua jajanan di sudut Kota Wonosobo sendirian, dimana teman sedang ada kumpul Mahasiswa Wonosobo di Perpustakaan Kota Wonosobo, selatan alun-alun. Aku langsung tancap gas untuk memutari sisi Alun-alun Kota Wonosobo yang kata teman merupakan salah satu alun-alun terbaik di Jawa Tengah. Banyak sekali jajanan di daerah alun-alun, mulai dari somay, batagor, cilok yang biasa ada di kota lain, ada juga mie ongklok, tapi pandangan mata tertuju pada Es Dawet Duren yang berada di sudut barat alun-alun. Jadi, es dawet durian merupakan es dawet yang berisi durian, hehehe, jadi isian keseluruhannya ada camcau hijau, cendol, monte aka sagu mutiara, ketan merah, cairan gula aren, santan cair, dan tidak lupa buah duriannya, buah nya jan bener-bener buah ya, 1 biji buah durian gedhe beserta bijinya, jadi mungkin masih fresh. Kalau boleh review jujur ya, ini isiannya royal sekali, tidak pelit, banyak, sampai kenyang dah cuman makan ini. Kalau boleh dibandingin juga, makan es ini sensasinya mirip es cepot yang ada di dekat Selokan Mataram, Babarsari, bedanya ini rasanya dari gula aren jadi masih tradisional gitu. Harganya menurut aku sangat murah dengan isian sebanyak dan seroyal itu yaitu hanya 7000 rupiah sahaja.
Gerobak Es Dawet Duren
5. Chlonyom
Agak lucu juga ya namanya, penasaran sekali ada streetfood seperti ini di depan Masji Al-Manshur Wonosobo. Sembari menghabiskan sedikit waktu pukul 12 di masjid, mampirlah aku ke gerobak penjual streetfood ini untuk melegakan rasa penasaran. Setelah saya datangi dan pandangi proses pembuatan nya, bisa saya simpulkan chlonyom merupakan olahan aci gitu, tampilannya sedikit mirip dengan cilor aka aci telor, tapi untuk chlonyom ini diolah dengan cara ditumis dengan tambahan daun bawang dan telur menggunakan teflon panas. Fix ini menambah list olahan aci yang pernah tak makan, ada cilok, cilor, cilung, cimol, cireng, dan ternya ada chlonyom. Untuk rasanya, pastilah seperti dengan cilor, dengan tambahan daun bawang pastinya menjadikan chlonyom ini lebih beraroma dan sedikit menyehatkan kali ya karena ada sayur. Harganya seperti harga streetfood pada umumnya, harga SD, untuk yang small 2000, middle 3000, dan untuk yang large 5000 saja dan pasti bikin kenyang.
Gerobak Penjual Chlonyom
6. Sagon
Sebenarnya baru tau kalau sagon merupakan jajanan khas Wonosobo. Sagon yang biasanya saya temuai di Jogja berukuran kecil kecil gitu kan ya, tapi untuk yang di Wonosobo, tepatnya di jalan Pasar Wonosobo selatan alun-alun berukuran cukup besar, diamter kurang lebih lah 10 cm ada. Dalam pembuatannya masih menggunakan arang kayu yang otomatis akan berdampak pada aroma dari si sagonnya yang pasti bakal lebih wangi, untuk rasanya seperti sagon biasa lah ya, tapi bakal lebih mantul kalau makannya pas masih hangat, karena bikinnya on the spot, nggak kayak yang sudah diplastikin gitu, kita bisa minta nih mau sagon yang hangat dimasak baru gitu ke penjualnya.
Pasar Wonosobo
Untuk sagon khas Wonosobo sendiri banyak dijual di kompleks Pasar Wonosobo, ada ibu-ibu penjual sagon, untuk kesempatan kali ini saya mencoba Sagon Bu Maksum yang berada paling utara dari jalanan Pasar Wonosobo, untuk harganya 1 biji sagon dihargai dengan harga 3000 rupiah saja dan sudah bisa bikin perut kenyang seharian.
Sagon Bu Maksum
7. Jadah Bakar
Karena waktu masuk ke pasarnya saya parkir di sisi selatan, sehabis membeli sagon saya harus kembali lagi keselatan sembari menyusuri aktivitas di pasar tersebut, seperti biasalah ada yang sedang tawar menawar, ojek kebut-kebutan, ibu-ibu teriak nggosip, hingga ada bahkan nenek sedang menyebat rokoknya. dan akhirnya secara tidak sengaja saya menemukan makanan ini. Sebenarnya makanan ini bukan Khas Wonosobo juga, dikarenakan dulu waktu zaman perkulian di Bekasi belum keturutan beli, tepatnya ada di depan Pasar Kranggan Bekasi, di selatan pertigaan, disitu ada angkringan yang jual makanan ini nih. Jadi ini merupakan jadah bakar, jadah merupakan olahan dari beras ketan dan dikukus bersamaan dengan parutan kelapa dan sedikit garam mungkin dan dibentuk kotak-kotak sesuai selera, sebenernya banyak sih sebutan olahan ketan ini, kalau di Jogja namanya jadah, di daerah Bekasi namanya uli, di Malang namanya tetel, intinya sama. Jadi untuk rasanya sudah pasti gurih, teksturnya chewy seperti squisyi gitu, ditambah dibakar jadi aromanya lebih sedap. Harganya masih sangat murah yaitu 2000 rupiah saja untuk satu kotak yang lumayan besar, bisa request tingkat kematangan juga, mau yang rare, medium, hingga welldone, atau bahkan overcook.
Jadah Bakar
8. Kedai Yamie Mie Agung
Setelah agak siangan dikit, teman sudah selesai acaranya, dan mengajak untuk makan siang, sebenarnya sudah kenyang sekali sih ya, tapi nggak mau nolak rejeki yasudah memutuskan untuk mengikuti menuju Kedai Mie Agung. Jadi Mie Agung ini yang populer dan hitz gitu di daerah Kota Wonosobo, dan ternyata letaknya berada di dalam pasar Wonosobo dekat Sagon Bu Maksum tadi, kami menuju ke tujuan menggunakan motor. Sempat penasaran jualan mie ayam gitu kok di dalam pasar jan beneran ndlesep gitu. Jadi gini, dulu Mie Agung ini jualan di pinggir jalan seperti pedagang mie ayam pada umumnya ya memang berjualannya di pinggir jalan gitu biar keliatan kan, nah pada tahun 2014, Pasar Induk Wonosobo mengalami kebakaran hebat nih, gegara bencana itu mengharuskan dilakukan relokasi kan buat para penjual dan penjajak di pasar, nah relokasi nya itu di Jalan Pemuda atau Resimen 18 yang sekarang menjadi ramai oleh para penjual, nah gegara relokasi itulah menjadikan Mie Agung ini terkesan berada di dalam pasar jauh dari lalu lalang kendaraan bermotor. Tapi sekarang Mie Agung sudah punya cabang lagi, jadi punya 2 kedai, yang di pasar itu merupakan pusatnya dan cabang satunya di Jalan Dieng 35, begitulah kesaksian teman saya mengenai Kedai Yamie Mie Agung. Mie Agung ini lebih ke masakan china ya, yang jual ibu chineese gitu. Untuk kali ini saya memesan yamie pedas seharga 12.000 rupiah. Untuk rasanya sendiri menurut saya cukup lezat, tekstur mie nya seperti mie yamie pada umumnya, kecil kenyal dan masaknya nggak lodrok, kuahnya nikmat sekali, seperti pedas manis gitu dong khas cina mungkin kali ya, sayurnya banyak, ayamnya juga lumayan diolah nggak tau gimana, ditumis kali ya, kalau mie ayam kan bumbu kecap, kalau ini mungkin kayak ditumis gitu, warnanya putih kecoklatan terang gitu, empuk juga. Soal rasa sudah pasti tidak diragukan ya, banyak ojol juga yang dapet orderan disini. Menunya sebetulnya banyak sekali, mulai dari mie yamie, bakso, ifumie, capcay, kari, kwetiau, fuyung hai, dan toping nya bermacam-macam. Untuk harga nya mulai dari 12.000 hingga 20.000, minumannya juga bervariasi.
Kedai Yamie Agung
Sekitar pukul 2 siangan, dan perut sudah cukup penuh, kami memutuskan untuk kembali ke rumah, dan sebagai pertanda bahwa perjalanan kuliner Wonosobo sudah selesai. Berbincang dan rehat sebentar di rumah teman, pukul setelah Adzan Ashar saya memutuskan untuk berpamitan dengan keluarga dan berpulang ke Jogja. Untuk jalur pulang, saya memutuskan berbeda dengan keberangkatan, yaitu melewati Kota Temanggung, dikarenakan ada satu spot yang saya ingin coba. Perjalanan pulang menurut saya sangat fantastis, melewati sisi samping Gunung Sumbing Sindoro, dengan embun kabut yang tebal hingga membuat was-was jikalau ada kendaraan yang melintasi di depan. Udara yang segar dan pemandangan yang eksotis membuat saya hanya memasukkan kecepatan sekitar 40km per jam (sebenernya dikarenakan macet juga sih, jadi pelan, hehehe).
9. Waroeng Jadoel, Temanggung
Jadi inilah alasan mesti melewati Temanggung yang mana perjalanan lebih lama sekali dibanding dengan jalur berangkat, yaitu mencoba masakan Waroeng Jadoel yang hitz sekali di sosial media baru-baru ini yang di up oleh salah satu influencer. Sesuai dengan namanya, usia warung ini sangat tua, kurang lebih 200 tahunan didirikan tahun 1800-an, sekarang yang melanjutkan hidupnya warung ini yaitu sudah generasi ketiga dari pendiri. Ornamen-ornamen nya masih jadul-jadul juga, mulai dari toples kaca yang ada di rumah mbah-mbah waktu lebaran, jam, piring, gelas, dan lain-lain seperti jaman dulu lah ya. Tidak hanya ornamennya saja, masakannya pun identik dengan zaman dulu, mulai dari nasi sayurnya, buntil, lengas, wajik, gorengan-gorengan, krupuk legendar, dan masih banyak lagi dah. Sebenarnya saya ingin mencoba salah satu masakan yang ibu saya di rumah dulu sering bikin, yaitu botok (pakai k, bukan x, botox), jadi botok adalah olahan petai cina yang basa jawanya mlanding, yang dicampur dengan parutan kelapa muda dan beberapa rempah-rempah, tapi karena saya datangnya sudah sehabis maghrib jadi sudah habis, tapi it's okay masih ada menu lainnya. saya memesan nasi tahu dengan telur asin, ditambah kerupuk legendar, untuk minumnya saya memilih teh gula aren. Untuk rasa nasi sayurnya emang kayak rasa-rasa jaman dulu sih ya, sudah jarang nemuin rasa seperti itu, manis manis gurih gitu, nggak tau ya mungkin gegara nggak pakai micin jadi rasanya masih seperti itu, susah dijelasin. Untuk harga total pesanan saya, saya habis 11.500 rupiah saja, sangat murah sekali. Menurut aku nih ya, untuk warung ini, harga semurah itu seharusnya tidak pantas sih, kata aku sih terlalu murah, seharusnya berani lebih mahal, karena selain membawa menu menu makanan, penjual ini membawa sejarah dari 200 tahun lalu, menurut saya kegigihan tersebut yang patut diapresiasi gitu. Tapi mungkin keluarga penjual tidak hanya membawa keuntungan, tapi membawa kenangan dari keluarga turun temurun, jadi mereka tetap mempertahankannya, mulai dari kondisi, hingga harga, dengan begitu cerita dan kenangan masih terjaga.
Waroeng Jadoel
Setelah nafsu penasaran puas terpenuhi, langsung tancap gas menuju Kota Magelang untuk mencoba kupat tahu dan gethuk gondok yang hitz di dekat alun-alun tapi ternyata sudah tutup dan hanya buka sampai jam 5. Yaudah kan yak mau gimana lagi. Berarti Waroeng Jadoel menandakan kulineran kali ini berakhir dan langsung tancap gas menuju ke Jogja.
Jadi begitulah sepenggal ekspedisi akhir tahun ini, yang diawali malam hari, dan diakhiri juga di senja hari. Sebenarnya masih banyak cerita detailnya dari tiap perjalanan, tapi tidak mungkin lah ya semua saya masukin sampai kata hati juga dimasukin, mungkin cukup seperti ini saja.
Sebenarnya ada banyak metode dan cara dalam membagikan sebuah cerita perjalanan aka liburan, mungkin lewat instastory yang bejibun, mungkin lewat video youtube yang kece baday, dan salah satunya lewat tulisan seperti ini. Karena aku sendiri tidak memiliki gadget dan kemampuan yang mendukung dalam pembuatan foto maupun video kece, jadi dengan tulisan inilah aku bakal bagiin sepenggal cerita, lewat tulisan inilah aku mengajak semua mampir dan membayangkan perjalanan kecil ini, lewat tulisan inilah aku menarik semua membuka pandangan pikiran entah itu sekecil apapun celahnya.
karena memang, menulis adalah melawan, melawan kemageran, melawan kemalasan, dan menifestasi perlawanan lain yang tiap orang punya tingkatan masing-masing.
dan membaca adalah membuka, membuka pandangan imajinasi bagi mereka yang memang berkeinginan.
mungkin dengan konten foto video yang kece semua hanya berfokus pada nilai eksotik visual saja,
tapi dengan tulisan, mengajak semua masuk ke dunia imaji dengan makna yang sampai ke hati.
dengan tulisan akan selalu kenang dalam imaji pikiran walau sudah hilang.
Dan buat semua kaum terbully karena sendiri,
tidak peduli jika ditemani sendiri dalam sebuah ekspedisi,
tak masalah jika tak ada jiwa lain untuk keluh kesah,
tak haram juga jika tak ada tawa untuk bercerita canda,
karena dalam sebuah ekspedisi bukan tentang siapa kamu didalamnya,
tapi tentang bagaimana kamu mengambil makna di setiap langkahnya,
walau mungkin hanya sebesar rintik debu di puncak gunung yang tak tereka,
walau mungkin hanya setitik hujan di tengah samudera,
tidak apa,
karena perubahan hebat dimulai dari perubahan kecil,
perubahan hebat bukan dari lampu-lampu besar yang menyala di pusat metropolitan,
perubahan hebat berasal dari lilin kecil yang menerangi tiap desa.
begitulah kata mereka para pendahulu kita,
sederhana menusuk jiwa.
Terimakasih untuk seluruh subject yang mendukung perjalanan kali ini,
Keluarga di Minggir,
dan pastinya juga Keluarga Haiydar yang rela menampung manusia yang satu ini.
Sampai jumpa. Salim
Wassalamualikum.
Sebenarnya ada banyak metode dan cara dalam membagikan sebuah cerita perjalanan aka liburan, mungkin lewat instastory yang bejibun, mungkin lewat video youtube yang kece baday, dan salah satunya lewat tulisan seperti ini. Karena aku sendiri tidak memiliki gadget dan kemampuan yang mendukung dalam pembuatan foto maupun video kece, jadi dengan tulisan inilah aku bakal bagiin sepenggal cerita, lewat tulisan inilah aku mengajak semua mampir dan membayangkan perjalanan kecil ini, lewat tulisan inilah aku menarik semua membuka pandangan pikiran entah itu sekecil apapun celahnya.
karena memang, menulis adalah melawan, melawan kemageran, melawan kemalasan, dan menifestasi perlawanan lain yang tiap orang punya tingkatan masing-masing.
dan membaca adalah membuka, membuka pandangan imajinasi bagi mereka yang memang berkeinginan.
mungkin dengan konten foto video yang kece semua hanya berfokus pada nilai eksotik visual saja,
tapi dengan tulisan, mengajak semua masuk ke dunia imaji dengan makna yang sampai ke hati.
dengan tulisan akan selalu kenang dalam imaji pikiran walau sudah hilang.
Dan buat semua kaum terbully karena sendiri,
tidak peduli jika ditemani sendiri dalam sebuah ekspedisi,
tak masalah jika tak ada jiwa lain untuk keluh kesah,
tak haram juga jika tak ada tawa untuk bercerita canda,
karena dalam sebuah ekspedisi bukan tentang siapa kamu didalamnya,
tapi tentang bagaimana kamu mengambil makna di setiap langkahnya,
walau mungkin hanya sebesar rintik debu di puncak gunung yang tak tereka,
walau mungkin hanya setitik hujan di tengah samudera,
tidak apa,
karena perubahan hebat dimulai dari perubahan kecil,
perubahan hebat bukan dari lampu-lampu besar yang menyala di pusat metropolitan,
perubahan hebat berasal dari lilin kecil yang menerangi tiap desa.
begitulah kata mereka para pendahulu kita,
sederhana menusuk jiwa.
Terimakasih untuk seluruh subject yang mendukung perjalanan kali ini,
Keluarga di Minggir,
dan pastinya juga Keluarga Haiydar yang rela menampung manusia yang satu ini.
Sampai jumpa. Salim
Wassalamualikum.









Gimana caranya nge like ? Pesan terakhirnya juara. Boleh di copas ?
BalasHapusnggak bisa di like, dishare aja , hehehe. copas boleh
Hapusberkmentar
BalasHapusmakasih gan kunjungannya
Hapus