Bagian 2 : Krisis Moneter Aku diam terheran heran melihat wanita itu, berpakaian dinas,berkerudung segitiga coklat muda, seperti biasa, tapi pagi ini dia tidak bersama sepeda mininya. "Bang, bisa ke Mupat?" celetuk wanita itu setelah sampai di dekatku. "Iya bisa, langsung naik aja" jawabku datar, Mupat sebutan dari SMA Muhammadiyah 4, berada di Jalan Mondorakan, searah tujuanku menuju ke Pasar Kotagedhe. Aku langsung mengayuh becak tuaku. "Nganter pelanggan atau siapa bang ?" tanya wanita itu memulai pembicaraan, "Anak saya", jawabku masih datar, hanya jawaban formalitas saja, sembari aku menyalakan rokok kretek, tidak masalah menyesap rokok di becak, toh asap tidak mungkin terkena ke pelanggan. "Berarti tiap pagi itu sama anaknya ya, kirain saya pelanggan" jawab wanita itu sembari menutup hidung dan mulutnya dengan helaian kerudung. Aku tidak peduli dengannya yang menggunakan bahasa isyarat itu, toh juga asap rokok tida...
Seberapa cepat perubaan dunia terjadi ? Apakah kita sadar ? atau hanya berpura tak sadar ?