Langsung ke konten utama

Postingan

Wanita di Sudut Kota

Rintik air masih menetes dari tiap tiap genting dan ranting di sudut persimpangan jalan, menggelayut berjatuhan menunggu gilirannya tiba. berlomba girang hendak menyatu dengan kawanannya di muka bumi, berdebur bersama angin malam, bersentuh dengan roda-roda dan alas kaki ibukota. Berlari-lari bersamaan menuju dunia bawah, untuk menyemai dan menggembur bersama tanah, dan menggerogoti akar-akar tua yang berupaya untuk menopang kayu dan memupuk dahan untuk berbunga. tak ada yang tau, hingga sekarang, pohon berkayu tua di sudut persimpangan jalan tak jua bersemi dengan kelopak kelopak bunga seperti musim yang telah sirna. Tak jua menampakkan keelokannya. Entah esok fajar ialah waktunya, atau hanya wacana belaka. Mungkin musim di malam ini beda, bukan musim milik sang pohon tua yang menanti mengotori trotoar jalan, bukan waktunya untuk mencolok anggun seperti pohon muda. Entah, tak ada juga yang peduli dengannya. Lampu bangunan di sepanjang jalan trotoar mulai bercahaya, dengan kebanyakan w...

Mula dan Meregang

Beranda Depan dan akhirnya dunia pun terperanjat takhluk melihat mereka berpasang, beriringan menelisik tiap relung raya jagat hingga titik terdalam, saling bersama lepas kian mencari beranda yang menjadi persinggahan di kemudian hari, menjadinya sebuah titik ruang, guna mencari arti dan saling mengerti. bertukar peluh karsa jiwa hingga menjadi kesatuan raga yang enggan berbeda arah, mengikuti dan saling mengikuti, dan berhenti jua di beranda yang telah dibangunnya bersama. Hanya Buai Dunia siapa puan, yang duduk termangu di dermaga berandanya, merintih sendiri tak jua datang yang dinanti, masih jua mengutuk alam jagat atas gurat takdir yang menimpanya, lelah mencari hingga pongah mengerti,

Sebaya Keempat

 Kepergian Dunia dan dia yang keempat dengan kokangan senjata tepat di antara kedua matanya merasa hina dan tak pantas untuk dunia bukan hamba yang diinginkan para manusia pikiran di relung kelam menjadikannya memang tak ada yang mereka apa di halaman belakangnya para mereka yang menjauhi dirinya merasa dia bukan apa apa hanya aib yang memperburuk raga tak ada lagi yang mendekat dan semua enggan melekat dan menjadi bersama diri di beberapa kemudian hari

Sebaya Ketiga

 Bisikan Gita Indah dia, yang selalu di riuhnya petang diam, di tengah pikuk ramai dini entah gerangan apa di relungnya sabdanya, biasa hanya gemericik air langit yang setiap rintiknya mencoba berteriak sekencangnya berteriak hingga seisi dunia mendengar dan semua hanya khayalan dan bualan semata dengan nada layaknya tetes gerimis di tengah laju ibukota tak berbahaya dan percaya, untuk apa berteriak sekencangnya pada dunia jika bisikan sajak indah mereka mampu mendengarnya

Sebaya Kedua

 Pengarung Samudera dia yang lahirnya hanya beban dunia dari selatan kota bukan siapa yang bertakhta di puncak singgasana pergi kesana kemari mencari arti pergi ke tengah samudera seraya membelah pasang dan karang terbiasa menggantung asa di dasar karang dan menariknya juga ke atas geladak kapal dengan nanah dan darah, akhirnya tiba di daratan seberang daratan tempat naungan takhta yang sebenarnya yang selama ini menjadi dambanya dan bertanya apakah daratan ini makna hidupnya apakah daratan ini benar beranda rumahnya

Sebaya Pertama

Dia dengan Kecewa Dunia Padanya dan dia yang pertama sebaya dengan luka ruam di pundaknya ukiran tindik di tengkorak kepala dia yang berkali dicaci dan benci oleh dunia memaksa untuk berhenti berjiwaa hingga berhenti bernyawa tapi nyatanya tingkah dunia bukan perkara baginya dia tetap menatih mengarungi ufuk dengan bekas belati di telapak kaki menarik tandu benci resah dunia dengan rotan dibelakang pundaknya mencoba dan mereka tetap berjaya dan merdeka atas polah dengki dunia

Sebaya : Prolog

tuju apa bagi mereka berjiwa puncak apa bagi mereka bernyawa bergeliat, berkumpul, menaungi dunia berlalu lalang hingga hengkang entah kemana berlari kecil menuju datang ufuk kembali dari pergi mengikuti ufuk dengan sembab keringat dan luka di sekujur tubuh entah apa yang mereka impi entah bagaimana mereka diuji menjadi rahasia yang terkubur dalam oleh debu manusia dan tak ada yang mengerti hingga gelap dunia dan bertanya mau menari seperti apa dan atau pergi begitu saja