Langsung ke konten utama

Postingan

Dongeng Tikus Gorong Gorong

Entah tak ada yang mereka, Di bawah telapak kaki keriuhan nan kemerduan bising semerbak asap di atas, Lorong remang, kuyup, dan sunyi bertinggi lima muka hasta, berpanjang hingga samudera lepas, Gorong-gorong di kolong kota metropolitan yang tak kunjung lengang, Tersimpan satu dua ceritera yang tiada menduga. Ceritera tentang tikus gorong-gorong, tak ada tetes cahaya yang berani singgah disana. Mengarungi lorong demi lorong kehitaman dunia bawah surga. Helaian gesekan rambut dan aroma jadi penuntun utama menuju singgasana. Celah rentetan kerakal laksana rumah bagi jiwa hasil senggama. Bau binatang bersapa didepannya ibarat jamuan dahar malam. Sebenarnya tikus gorong-gorong mereka di atas kepala ada surga yang didambakan. Ada kehidupan yang dilimpahi oleh berkas hangat matahari pagi. Yang pasti, ada singgasana dibanding rumah di kolong tempat abadinya. Tapi apalah daya, tikus tak ingin perkasa meraih nikmat kehangatan matahari pagi. Tikus gorong-gorong telah menaruh ...

Memang Bukan Pecinta Kopi

Penikmat senja, Pecinta kopi, Musik indie di gendang telinga, Tiga partisi utama kesatuan indie, saling mencumbui tanpa mengebiri satu dengan yang lain, fenomena ke-milenials-an awal abad 21. Dilengkapi dengan gaya busana masa kini yang tidak jarang jadi adisi tambahan tanpa ketinggalan. Tak tahu mengapa, senja, kopi, musik indie, konon memberi aura kehidupan yang nyaman, harmonis, segar, dan mungkin sedikit nuansa retoris. Yang pasti tak ada salah dan haramnya, mengikuti atau malah menemukan jalur ini dengan sendiri, toh juga seharusnya tak mencederai nyawa makhluk lain, kecuali mereka yang tak terkira. Disini lebih tepatnya detik penulisan topik basa basi ini aku tidak memenuhi ketiga partisi fenomenal daiatas. Digadang sepertinya bakal sangat superpower sangat bila bisa, menikmati senja di hari sore dengan secangkir kopi ditemani musik indie sembari menulis beberapa seberapa larik, tapi nyatanya hanya ilusi, di fajar hari, air mineral isi ulang, lagu antah berantah asalny...

Ekspedisi Satu Malam Satu Hari

Assalamualaikum, Selamat pagi, siang, hari seluruh teman-teman dimana kalian berada, Semoga rasa sehat, semangat, dan syukur selalu bersama kalian semua dimanapun kalian berdiri. Akhir tahun bagi teman di belahan bumi manapun pastilah identik dan klop yang namanya liburan, piknik, dolan, refreshing, atau apapun itulah teman semua nyebutnya. Semisal nggak pergi kemana gitu atau nggak main, pastilah pasti bakal jadi bullyan dan perbincangan negatif buat mereka, di kamar aja lu jualan semangka ?, jones ya lu nggak kemana-mana ?, dua kalimat itu tu yang jadi kalimat pamungkas buat mereka kaum non-liburan. Tapi it's okay lah, biaran mereka, karena mereka nggak tau bener gimana nikmat rebahan sambil mikirin kemajuan negara ini, mereka nggak tau makna rebahan sambil ngrefleksiin kehidupan masing-masing, mereka terlalu fokus sama dunia sampai lupa sama diri mereka, nah mungkin itu sedikit kalimat penenang buat kalian kaum non-liburan, karena aku akhir tahun ini sempat merasakan me...

Damar dan Amara (Bagian Empat)

Bagian Empat : Kami Bertiga Percakapan kecil kami bertiga tandas hingga tepat siang hari, aku memutuskan meninggalkan sejenak obrolan demi mengurus administrasi di depan, mulai membayar biaya perawatan dan informasi jika damar dpat beranjak pulang nanti ashar, untuk saat ini langsung menuju langgar terdekat, untuk menjalankan sholat siang, meninggalkan keromantisan Damar dan Amara yang baru dikenalnya tadi pagi. Setelah sholat, aku memutuskan untuk rebahan sejenak di depan langgar, angin sepoi senada menghantarkan ku cepat terlelap, membiarkan Damar dan Amara di bilik kamar itu, mempercayai Amara untuk menjaga anaknya sejenak. ... Pukul 2 tepat, aku terbangun, beranjak menuju kamar Damar, untuk mengajaknya pulang, semangatku terhenti seketika smpai di depan gagang pintu kamar Damar, Amara wanita yang bukan siapa-siapa keluargaku tertidur pulas di dipan menemani Damar yang juga tertidur, Aku tak tahu, apa yang harus kulakukan. Aku duduk merenung di depan bangsal rumah sakit, mem...

Damar dan Amara (Bagian Tiga)

Bagian Tiga : Pupus Alarm di tubuh ku masih berfungsi dengan baik, aku bangun jam 4.00, seperti biasa, 30 menit sebelum adzan Subuh. Aku langsung menuju ke rumah bagian belakang, dapur, mempersiapkan segala hidangan untuk sarapan, mulai dari nasi, sayur, hingga lauk tempe semua aku buat sendiri, tidak perlu bertanya soal rasa masakanku, hidup 10 tahun tanpa wanita pendamping sudah membuatku beradaptasi, ya, beradaptasi bagaimana membuat hidangan lezat untuk Damar, anak kesayanganku. Pagi ini tidak seperti pagi biasanya, aku lebih bersemangat dari biasanya, ya, Aku dan Damar akan pergi ke Gembiraloka,sudah menjadi wacana sejak lama, tapi baru keturutan hari Minggu ini. Pukul 4.30, suara Adzan Subuh berkumandang dari langgar belakang rumah, aku langsung menunda segala pekerjaan pagi ini sejenak, langsung menuju ke langgar, ikut menunaikan ibadah sholat Subuh. "Nanti narik Dhing ?" tanya Dharmo sembari keluar dari langgar tua ini. "Belum dulu Mo, Damar ngajak ke...

Damar dan Amara (Bagian Dua)

Bagian 2 : Krisis Moneter Aku diam terheran heran melihat wanita itu, berpakaian dinas,berkerudung segitiga coklat muda, seperti biasa, tapi pagi ini dia tidak bersama sepeda mininya. "Bang, bisa ke Mupat?" celetuk wanita itu setelah sampai di dekatku. "Iya bisa, langsung naik aja" jawabku datar, Mupat sebutan dari SMA Muhammadiyah 4, berada di Jalan Mondorakan, searah tujuanku menuju ke Pasar Kotagedhe. Aku langsung mengayuh becak tuaku. "Nganter pelanggan atau siapa bang ?" tanya wanita itu memulai pembicaraan, "Anak saya", jawabku masih datar, hanya jawaban formalitas saja, sembari aku menyalakan rokok kretek, tidak masalah menyesap rokok di becak, toh asap tidak mungkin terkena ke pelanggan. "Berarti tiap pagi itu sama anaknya ya, kirain saya pelanggan" jawab wanita itu sembari menutup hidung dan mulutnya dengan helaian kerudung. Aku tidak peduli dengannya yang menggunakan bahasa isyarat itu, toh juga asap rokok tida...

Damar dan Amara (Bagian Satu)

Bagian 1 : Wanita Sepeda Mini Pagi ini sepi, pohon-pohon masih pasrah bergelayutan di dinginnya pagi, burung-burung jantan juga masih menetap di dalam sangkarnya, bersama sang betina dan anak anaknya. Bumbungan asap rokok perlahan menghilang berbaur dengan udara, semakin ke atas asap menjadi hilang, sesapan dan sebulan puntung rokok menjadi teman setia bagi Gadhing di kala pagi hari, sembari sesekali menyeruput kopi buatan nya sendiri, menikmati pagi di halaman rumahnya, duduk termangu melihat suasana pagi itu.  Sudah menjadi kebiasaan bagi Gadhing tiap pagi duduk di halaman ditemani secangkir kopi pahit buatannya sendiri dan sepuntung rokok kretek. Kebiasaan ini dilakukannya setelah selesai memasak sarapan dan sedang menunggu Damar, anak laki-laki satu-satunya yang berusia 11 tahun selesai mandi. "Dhing, Gadhing, pagi pagi udah ngalamun wae, cari istri sana biar ada yang mijetin di pagi hari, hahaha !" "Asu kau, pagi - pagi udah ngajak ribut !" refleks G...